Orang Batak Yatim Piatu Secara Kultural

Oleh : Bachtiar Sitanggang
Administrator Administrator
Orang Batak Yatim Piatu Secara Kultural
IST|Pelita Batak

PARA PEGIAT peradaban Batak Sabtu malam (8/1) mengadakan webinar dengan topik : Realitas dan Tantangan Kebudayaan Batak Era Milenial” dipandu oleh Dr. Sahala Benny Pasaribu dengan pemateri tunggal Nestor Rico Tambunan, dengan peserta kurang lebih 47 peserta.

Dalam pemaparannya Nestor dengan tegas menyebutkan bahwa dewasa ini Orang Batak (peradaban Batak) sebenarnya orang yang “mali-ali” (yatim piatu) secara kultural. Dengan tegas dia mengatakan bahwa 'Kita saat ini cenderung menyempitkan pengertian kebudayaan itu hanya sebatas Dalihan Natolu dan adat istiadat, dan adat istiadat ini dipersempit lagi menjadi sebatas pesta-pesta Adat pernikahan atau kematian. Pada hal Adat hanya sebagian kecil dari elemen kebudayaan.

Nestor sebagai wartawan senior dan pemerhati peradaban Batak mengungkapkannya dengan gamblang dalam makalahnya yang berjudul : “Berbagai Realitas Dan Tantangan Kebudayaan Batak " Ringkasan pemikiran mengenai realitas, krisis, dan peluang restorasi nilai-nilai Kebudayaan Batak”.

Ditambahkannya, Agak menyedihkan, mungkin banyak yang tidak sadar kenyataan, betapa orang Batak dewasa ini, sebenarnya orang yang mali-ali (yatim piatu) secara kultural. Banyak yang tidak tahu, teralienasi, terasing, dari nilai-nilai kebudayaan. Tidak tahu bagaimana kita harus hidup sebagai orang Batak pada jaman sekarang.

Dia mengawali paparannya dengan mengatakan : Kebudayaan Batak salah satu kebudayaan tua dan memiliki karakter kuat di Nusantara. Memiliki karakter kuat karena sangat khas, lengkap, rumit hukum dan adatnya. Dan ketersebaran orang Batak membuat orang Batak dan warna kebudayaannya dikenali di hampir semua tempat. Secara umum orang Batak bangga dengan kebudayaannya. Tapi kita harus jujur, banyak perdebatan dan kegelisahan atas kebudayaan orang Batak. Hal itu kata Nestor terlihat dalam pergaulan sehari-hari.

Ada kecenderungan orang Batak sulit menyatukan pendapat, masipandok hatana. Masibaen nabinotona. Intinya, tidak ada lagi nilai dan pengetahuan yang diakui sebagai nilai bersama.

Salah satu yang paling banyak jadi bahan perdebatan adalah pelaksanan-pelaksanaan adat yang semakin lari dari nilai, kebanyakan uram-uram (campur-baur:penulis), pelaksanaan adat itu sudah banyak lari dari nilai-nilai Habatahon (peradaban Batak).

Mengatasi kegundah-gulanaan itu Nestor yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik, dan seni-sastra ini mengajukan pertanyaan, Bagaimanakan kita harus hidup sebagai orang Batak pada zaman sekarang ini. Karena menurut dia berbagai faktor pendukung membuat orang Batak mengalami kegelisahan dan perdebatan budaya.

Menurut dia bebrapa faktor pendorong penyebabnya, antara lain disebutkan: ketersebaran tempat tinggal dan warna kehidupan. Orang Batak yang ekspansif, tersebar di mana dengan berbagai profesi, melihat kebudayaan Batak itu dari sudut pandang pengetahuan dan pemahaman masing-masing.

Hilangnya ajaran kebudayaan, juga akibat gempuran dua kekuatan besar yaitu gerakan misionaris dan penjajahan kolonial Belanda. Mengakibatkan hancurnya kehidupan sosial-budaya di Tano Batak setelah Pemerintahan Bius dibubarkan bersamaan dengan berlangsungnya Perang Batak.

Terjadinya perubahan nilai juga menurut Nestor mempengaruhi peradaban Batak dengan masuknya nilai yang berorientasi pada hasil, untung-rugi dan bersifat pragmatis terhadap kehidupan, terhadap hidup kebersamaan, kekerabatan, harmoni solidaritas, moral/etika dan yang sejenis, berubah menjadi egois dan berorientasi materi dan kepentingan pragmatis.

Dunia sistem seperti itu katanya, mendapat tempat empuk dalam masyarakat yang menganut paham hamoraon, hagabeon, hasangapon yang diselewengkan dunia sistem. Tindakan-tindakan involusi Budaya juga menurut dia mempengaruhi kebudayaan orang Batak yaitu perumitan bentuk kebudayaan, namun tidak menghasilkan kemajuan apa-apa. Perubahan itu terjadi dengan berbagai variasi dalam rangkaian acara Adat dengan munculnya berbagai variasi namun menambah permintaan namun tidak bersifat positif, bahkan ibarat uram-uram dan “mangararati” tanpa dasar ruhut (aturan), patik dan uhum Habatahon.

Berdasarkan kurangnya Pembelajaran Budaya, bertolak dari fakta antropologis, menurut Nestor, pengetahuan orang Batak tentang kebudayaan tidak lagi seragam dan aneh-aneh, yang berarti tidak lagi memiliki objektifitas. Mungkin tidak dalam semua hal, tetapi jelas dalam banyak unsur.

Salah satu jalan menuju dan menggali nilai-nilai Kebudayaan Batak menurutnya adalah Kongres Kebudayaan Batak. Kalau bisa merumuskan Batakologi, ilmu pengetahuan tentang Kebudayaan

Batak.

Sebagian besar penanggap dalam zoom virtual selama 3 jam tersebut mendapat dukungan positif

agar kembali ke nilai-nilai budaya Batak dengan tidak mencari perbedaan dengan agama. Tidak sedikit pula yang mengusulkan memulai dari keluarga orang Batak seperti menggunakan hata Batak di bagas, gereja dan pergaulan sesama dalam keseharian.

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) salah satu lembaga keagamaan yang menyandang sebuta Batak diharapkan “bertanggung jawab” dalam melestarikan 'Ha-Batak on”, sebab adalah janggal para pendeta khotbah dalam hata Batak ternyata jemaatnya tidak mengerti.

Sementara di gereja Katolik di Kawasa Danau Toba telah melakukan inkulturasi dengan mengadaptsi nilai-nilai budaya dalam penyelenggaraan ibadah-atau kegiataan keagamaan.

Dr. Sahala Benny Pasaribu dalam uraiannya mengemukakan perlunya upaya peningkatan pemahaman budaya Batak untuk diwariskan ke genrasi berikutnya dengan menerbitkan buku-buku ajar praktis untuk SD SMP dan SMA, serta mendesaknya Kongres Kebudayaan Batak bekerja sama dengan Pemerintah Daerah sesuai Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan setiap daerah untuk mengembangkan budaya masyarakat.

Kalau bukan kita generasi sekarang yang lahir di bona pasogit melakukan, akan semakin sulit bagi anak-cucu kita, dan untuk itu perlu kerjasama dengan semua pihak terutama Perguruan Tinggi terutama Universitas Sumatera Utara, karena menurut Prof. Robert Sibarani USU telah memiliki Program Studi Sastra Batak di Fakultas Ilmu Budaya.

Menghidupkan penggalian budaya Batak menurut para peserta sudah mendesak, adalah mempertahanan Hata Batak sebab menurut Dr. Robert Simbolon, dari hasil penelitian bahwa Hata Batak sudah ada yang hilang. Agar Bahasa Batak (Hata Batak) tidak hilang, upaya bersama dibutuhkan. Kita tunggu.(*)

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini