Gondang Batak Si Palao Begu

Oleh : Bachtiar Sitanggang
Administrator Administrator
Gondang Batak Si Palao Begu
IST|Pelita Batak

KONON, Gondang (musik tradisional) Batak Toba berawal dari penemuan seorang pemburu binatang liar seperti rusa, babi hutan dan kambing hutan jaman dahulu. Berawal ketika pemburu menelusuri hutan mengintai menangkap seekor rusa lalu memprosesnya untuk dikonsumsi.

Dagingnya dimakan, kulitnya dibersihkan dan dijemur untuk dijadikan tas (tempat barang) dalam bahasa Batak disebut “hadang-hadangan”.

Suatu saat si pemburu membersihkan kulit seekor rusa dan dikeringkan di atas kayu yang berlubang.

Beselang beberapa waktu kulit yang dijemur itu di-test, apakah sudah kering, lalu dipukul-pukul. Saat itulah terdengar suara indah, dan si pemburupun mengulanginya berkali-kali dan semakin tertarik dengan bunyi-bunyian yang dihasilkan kulit yang dipukul di atas kayu yang “bolong” itu.

Karena kagum dengan indahnya bunyi kulit tersebut kalau dipukul di atas kayu yang bolong, si pemburu, menutup lobang pohon itu dari bawah, suara yang dihasilkan semakin indah dan menambah keingin tahuannya.

Dengan penasaran, dicari kayu berlubang yang lebih besar dibuatnya sama seperti pohon berlubang sebelumnya, suara semakin mendengung dan lebih menggema lagi serta menambah indah kalau dipadukan.

Pendek cerita, si pemburu membuat kayu bertutupkan kulit di atas dan ditutup dari bawah serta diikat kencang sampai lima buah dengan besar berurutan dari yang kecil sampai yang besar, itulah TAGANING alat musik Batak yang dipegunakan sekarang.

Demikian Pargonsi “Partaganing” Aliman Tua Limbong, yang sudah 40-50 tahun sebagai Partaganing menjelaskan dari tempat tinggalya di Sianjurmulamula, lembah kaki gunung Pusuk Buhit. Samosir, yang tampil sebagai nara sumber Rabu malam dalam zoom meeting dengan topik “Musik Asli Batak Toba” yang diselenggarakan FGD Batakologi, sebagai host Benny Pasaribu PhD dan Dr. Pirma Simbolon sebagai moderator.

Taganing adalah alat musik Batak Toba yang tidak terpisahkan dari Gondang Bolon/Gondang Sabangunan yang kita kenal pada masa sekarang. Menurut Aliman Tua, nada Taganing adalah “Nang, ning, nung, neng, nong” hanya lima tangga nada. Untuk menyempurnakan irama dibuat lagi yang berukuran besar disebut “gordang” berfungsi sebagai “bass”.

Taganing, katanya singkatan dari “Tantan Gantung Ningning”, yang artinya “tantan = dipilih”, “gantung”= digantung supaya suaranya menggelegar. Sedangkan “Ning ning” maksudnya harus dipukul komponen.

Taganing awalnya ada tujuh, tetapi yang sering ditampilkan ada lima terdiri dari 1. Odap odap, 2. Pai dua ni Odap odap, 3. Sipukka Barita, 4. Paidua ni Ting ting, 5. Ting ting, kesemuanya memiliki makna masing-masing.

Gondang (alat musik) Batak sendiri menurut Limbong, adalah kumpulan beberapa alat musik tradisional yaitu Taganing, Sarune Bolon, Seperangkat Gong (Ogung) dan Hesek. Kalau dikelompokan, hanya empat bahagian, tetapi pemainnya harus 8 orang yakni, pemain taganing 2 orang, pemain Serunai 1 orang dan pemain Gong 4 orang dan Hesek 1 orang.

Sementara Sarune berawal dari batang padi, kemudian dikembangkan menjadi besar dari kayu, sementara hesek adalah bunyi antara dua benda keras seperi besi atau botol.

Empat Gong (Ogung) terdiri dari : Oloan, Panggora, Ihutan dan Doal yang keempatnya saling bersahutan bertalu-talu sesuai dengan fungsi masing-masing, sementara yang menata ritme adalah Hesek.

Tahun 50- 80-an Gondang dipakai untuk acara serimonial Partondion (Ritual khusus yang berhubungan dengan jiwa), acara orang meninggal (Lotung lotung), Saur matua, Pesta Ongkalon Holi (mengangkat tulang belulang para leluhur).

Seiring perkembangan zaman, Gondang sudah dipakai juga pada acara Pernikahan Adat Batak, Ulang Tahun, Pesta Pembangunan Gereja dan acara syukuran.

Perkembangan penggunaan Gondang Sabangunan ini pun sudah sering digunakan dalam acara hiburan seperti “patam patam” (lagu apa saja boleh dimasukkan) dan lagu-lagu Gereja, namun tidak semua lagu bisa diikuti Sarune bolon sebab tangga nadanya hanya 5.

Dijelaskan, setiap acara Gondang harus didahului Gondang Panjujuron yaitu 7 Gondang yang wajib dimainkan sebagai penghormatan kepada Allah Pencipta Alam semesta. Sebelum ke-7 Gondang dimainkan harus ada 3 Gondang Penghormatan pertama : Gondang “Penghormatan kepada Pencipta Alam semesta”; kedua ‘penghormatan kepada Penghuni Alam yang diciptakan oleh Allah” dan ketiga “Penghormatan kepada khalayak Ramai” (Raja si tuan natorop) yang diawali dengan tanya jawab serta permohonan antara pembawa acara dengan Pargonsi (pemain musik).

Kemudian setelah 3 Gondang sudah dilakukan, maka tanpa henti-hentinya Pargossi pun akan memainkan Gondang Bolon yang terdiri dari 7 gondang yaitu: 1. Sahala Raja (yaitu Roh Allah); 2. Batara Guru (yaitu Pancaran Allah meluli Allah Bapa); 3. Debata Sori (yaitu pancaran Allah melalui Anaknya yang Tunggal), Mangala Bulan (yaitu Pancaran Allah Roh Kudus - Keilahian); 4. Mulajadi sebab pada zamannya manusia mengenal Allah melalui Pancaran yang tiga tersebut; 5. Habonaron (yaitu mengandung makna Malaikat Surga menuntun manusia ke jalan yang benar; 6. Gondang Marnini (yaitu sesuatu melambangkan panjang umur serta mendapat keturunan yang sempurna.

Setelah ke-7 Gondang itu dilantunkan, maka dilanjutkan dengan Sibane-bane, Sibane Ulu yaitu melambangkan keselamatan dan diakhiri dengan gondang yang ke-8 yaitu Gondang Sitio-tio yang berarti Gondang penutup dengan harapan terberkatilah seluruh rangkaian acara tersebut.

Dalam tanya jawab Aliman Tua mengungkapkan kekhawatirannya dengan masuknya unsur musik lain ke dalam Gondang Batak, bahkan penyebutan Pargonsi dengan Parmusik juga sudah sering didengar pada hal itu beda, sebab pargonsi adalah orang yang memiliki talenta dengan ilham serta penuh ketekunan dan kecintaan, beda dengan pemusik pada umumnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah permintaan musik “Poco-poco” dan “Maumere” ke Pargonsi Gondang Batak.

Dia juga membantah Gondang Batak sebagai “Si Pele Begu” justru Gondang Batak itu adalah “Si Palao Begu”, sebab keseluruhannya adalah memohon penyertaan kepada Tuhan Yang Maha Esa segala bentuk kedamaian dan kesejahteraan serta memohon agar dijauhkan dari segala bentuk penderitaan dan mara bahaya.

Dia mengharapkan agar Daerah Toba memiliki kekhususan dalam bidang budaya dan seni, berbeda dari daerah lain, sebab Samosir khususnya adalah awal peradaban Batak, oleh karenanya perlu peraturan pembinaan budaya dan seni dari Pemerintah.

Monang Naipospos, budayawan terkemuka Batak saat ini yang didaulat untuk memberikan tangggapannya, mengharapkan dalam upaya melestarikan budaya Batak perlu mendirikan sanggar-sanggar budaya di tiap-tiap Desa sebagai tempat pembinaan dan pelatihan generasi muda, sanggar tersebut bisa dikunjungi maestro seni budaya untuk memberi pengarahan dan semangat. Hal itu sangat diperlukan menangkal makin tergerusnya seni-budaya lokal oleh budaya dan alat musik asing.

Sementara Monang Simanjuntak mengingatkan perlunya bangsa ini memiliki politik kebudayaan mulai dari tingkat pusat oleh Pemerintah dan DPR sampai ke tingkat Kabupaten dan Kota, agar kesinambungan pembinaan dapat diprogramkan, sebab bantuan peralatan tanpa pembinaan akan percuma. Monang Simanjuntak juga menampik adanya yang mempertentangkan Gondang dengan keyakinan, dengan menyebutkan Mazmur 148, 149 dan Mazmur 150.

FDG Batakologi saat ini berupaya mengumpulkan bahan untuk dijadikan buku bahan ajar bagi anak didik SD, SMP, SMA di kawasan Danau Toba, karena budaya lokal sudah mulai tergerus, termasuk budaya dan seni Batak. ***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini