Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, dikenal sebagai Apostel Batak terutama para rohaniawan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) serta gereja-gereja persebarannya, karena dengan pelayanan beliaulah orang Batak terbebas dari berbagai penderitaan dan keterbelakangan, tidak hanya secara duniawi tetapi juga secara rohani.
Nommensen kelahiran Nordstrand, Jerman, 6 Feberuari 1834 mengabdikan dirinya di Tanah Batak dan atas hasil ketekunannyalah berdiri sebuah gereja di tengah Batak Toba yang sekarang yaitu HKBP dengan beberapa gereja sebagai pemekarannya. Dan Apostel Batak itu wafat 23 Mei 1918 dan dimakamkan di Sigumpar, Toba sekarang.
Tetapi Nommensen tidak begitu saja menjadi penginjil di usia 20 tahun, dia menimba ilmu di seminari zending Rheinische Missionsgeselchaft (RMG) di Barmen. Setelah lusus ditahbiskan menjadi Pendeta pada tahun 1861 dan tahun 1862 ditugaskan RMG ke Sumatera dan tiba di Padang 14 Mei 1862 dan memulai misinya di Barus dengan harapan akan mendapatkan izin menetap di daerah Toba.
Kunjungan pertama di Tarutung 11 Mei 1863, dan pada tahun 1873 Nommensen berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (terjemahan dari Yerusalem-KAMPUNG Damai) dan ia mendirikan gedung gereja, sekolah dan rumahnya di Pearaja, tempat pusat gereja HKBP sekarang.
Konon, Ompui IL Nommensen pertama kali khotbah di Dolok Siatasbarita menghadap Rura Silindung, tempat Salib Kasih kebanggaan kota Tarutung dan Tapanuli Utara sekarang.
Dr. IL Nommensen sesuai dengan doanya ketika sakit, apabila dia sembuh akan menjadi penginjil ke orang kafir, ternyata dia sembuh dan ketika itu, apakah dia sadar apa yang disebut Amanat Agung atau Perintah Tuhan Yesus yang tertulis dalam Injil Matius 28: 19: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” serta Markus 16: 15: ”Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah injil kepada segala makhluk”.
Terlepas dari kesembuhan penyakitnya. Ompui Nommensen menunaikan Amanat Agung Yesus Kristus sehingga dia datang menyelamatkan jiwa-jiwa seperti banyak orang yang telah menjadi orang besar dan pejabat.
Amanat Agung itu berlaku kepada semua orang Kristen, dan menurut hemat kita untuk mempersiapkan Nommensen-Nommensen muda haruslah ada anak-anak muda yang dididik menjadi penginjil seperti Nommensen, dan untuk tempat menimba ilmu seperti seminar zending yang menggembleng Nommensen, dibutuhkan sekolah-sekolah penginjilan, dan untuk itu harus disyukuri adanya Intitut Agama Kristen Negeri Tarutung (IAKN Tarutung) sebagai suatu lembaga pendidikan Agama Kristen yang mempersiapkan mahasiswa menjadi hamba Tuhan, satu-satunya perguruan tinggi Agama Kristen di Sumatera yang berada di Tarutung, Sumatera Utara.
Oleh karena itu adalah keliru apabila IAKN Tarutung ditransformasi menjadi Universitas Negeri Tapanuli Raya (UNTARA). Mendirikan Universitas negeri di Tapanuli adalah suatu cita-cita luhur dan mulia, sebab sudah seharusnya mengingat perkembangan jaman dan pertambahan penduduk. Tapanuli mungkin satu bekas Karesidenan yang belum memiliki Perguruan Tinggi negeri kecuali IAKN Tarutung.
Jadi menurut hemat kita adalah bukti ketidak mampuan mendirikan universitas negeri apabila menggunakan keberadaan IAKN untuk memenuhi ambisi.
Kalau benar mampu dengan dukungan Ketua MPR RI dan Ketua DPD RI mengapa tidak langsung meminta dukungan mendirikan Universitas Negeri?
Tegakah kita menurunkan salib-salib yang ada di ruangan-ruangan IAKN dan tempat-tempat lain di mana ada lambang keselamatan dunia?
Kadang-kadang saya merenung, pantas orang-orang tua kita menasehatkan “jolo nidilat bibir asa nidok hata”, artinya dalam mengemukakan gagasan itu perlu menggunakan hati nurani (roha parbagasan), agar tidak keblinger (keliru-asbun).
Dengan meniadakan IAKN Tarutung menurut hemat kita sama dengan menghambat Injil Matius dan Injil Markus yang dikemukakan di atas. Bisa saja atau mungkin ada pendapat lain yang lebih logis sesuai dengan iman para pemikir transformasi IAKN menjadi UNTARA.
Tetapi sebelum terlambat kita mencoba mengajak para pengambil kebijakan untuk berpikir dua kali, sebab kalau tidak bisa menambah ya kita harapkan mengembangkan. Jangan karena ketidak mampuan mewujudkan ambisi merusak tatanan yang ada. Semoga Tuhan menerangi hati dan pikiran para pemimpin. Salam hormat.***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.