Ulos dan Museum-Reinterpretasi dan Revitalisasi Makna

Administrator Administrator
Ulos dan Museum-Reinterpretasi dan Revitalisasi Makna
Ist
Pameran ulos di Museum Tekstil Jakarta

Oleh : Sampe L. Purba


Mengunjungi dan menjelajahi pajangan koleksi pribadi ulos dari ibu Luhut Panjaitan, akhir pekan kemarin-di Museum Tekstil Indonesia-Jl. K.S Tubun-di bilangan Petamburan Jakarta Pusat menorehkan kesan-kesan spesifik. Saya mengajak Tobiaz, anak bungsu- yang saya anggap merepresentasi generasi kelahiran kota. 


Memasuki  gedung bergaya kolonial dengan halaman luas serta pepohonan rimbun, di sisi kanan masih terlihat beberapa papan bunga ucapan selamat, termasuk dari Gubernur DKI Pak Baswedan. Sementara di dalam, anda mula mula akan dibawa berkelana ke lorong lorong temaram-yang mau tidak mau berkesan magis sakral, diiringi alunan musik tradisi seperti sordam. Berbagai koleksi ulos dipamerkan, dengan fungsi dan kegunaannya mulai dari ulos mangiring yang agak kecil hingga ulos pinunsaan yang lebarnya saya perkirakan di atas satu setengah meter dengan panjang 2,5-3 meter. 

Galeri tersebut disulap seperti kombinasi seni instalasi post modernism sebagai wadagnya, dan ulos- yang inherited from the past- sebagai konten dan rohnya. 

Saya kira itu bagian dari pesan yang juga ingin disampaikan art directornya. Bahwa modernitas tidak harus membuat kita tercerabut dari akar budaya. Di lorong ujung setelah keluar, disediakan semacam pohon putih, dimana para pengunjung boleh menuliskan pesan dan menggantungkan di dahannya. Mirip seperti pohon cinta di pinggiran Sungai Seine, Paris atau  di gunung Namsan, Seoul Tower. Cocok spot berselfie ria. 

Kita berterima kasih kepada keluarga Bapak Luhut B. Panjaitan, yang disela-sela kesibukan beliau mengurus A to Z dan double Z di Negara ini, masih memberi kesempatan kepada warga Jakarta untuk tamasya budaya. 


Dari desain display serta leaflet yang berbahasa Inggeris, "Ulos Hangoluan dan Tondi -A Life , journey through the thread" , kami menebak terbersit di pikiran beliau para orang tua Jakarta mengajak atau mendorong generasi milenial untuk menyempatkan diri mengunjungi event yang langka ini. 


Memperkenalkan warisan tradisi kepada anak anak muda yang lahir di perkotaan memerlukan kiat sentuhan milenial. Melengkapi pameran dengan katalog koleksi berisi foto serta fungsi ringkas setiap ulos, musik pengiring yang kekinian, dan kafetaria berwifi gratis plus souvenir shop, akan membuat pagelaran lebih asyik. Waitersnya juga perlu yang  cantik smart. Biar impressi anak anak muda tidak terkesan seperti menelusur ruang peradaban lampau. 


Kita juga harus paham, bahwa fungsi ulos telah banyak bertransformasi evolusi dari instrumen ritual spiritualis ke arah kultur, simbol dan wahana penanda ikat kekerabatan. Menjadi sebuah tantangan dan art,  menggelorakan  ulos dalam konteks kekinian. Menghadirkan desakralisasi dan resakralisasi tanpa mendesak ke ruang abai. 

Museum Tekstil-yang dipilih ibu LBP sebagai ruang pameran-adalah tempat yang sangat bergengsi. Beliau ingin pengelola museum berbenah. 


Museum Tekstil Jakarta memiliki rentang sejarah yang panjang. Awalnya merupakan vila awal abad ke 19 milik seorang hartawan warga Perancis, kemudian pada awal kemerdekaan pernah menjadi markas Perintis Front Pemuda dan Angkatan Pertahanan Sipil. Pada masa Gubernur Ali Sadikin-yang bercita rasa tinggi-, dijadikan  museum tekstil untuk mengangkat harkat karya tradisi warisan bangsa. Diresmikan penggunaannya oleh ibu Tien Soeharto pada tahun 1976.


Museum diharapkan dapat direvitalisasi dengan sentuhan modern. Museum bukan lagi sekedar pengawet dan perawat artefak ingatan kolektif masa lampau dalam wujud kebendaan. 

Agak disayangkan, kompleks yang asri itu banyak menganggur. Lihatlah ruang pamer batik di sebelahnya, yang terkesan suram. Jauh dari deskripsi di wikipedia. Ingat, di abad informasi ini, kredibilitas dan profesionalisme is a must.

Sentuhan modern seperti toilet yang bersih, taman ruang terbuka yang asri, serta coffee shop tokh dapat ditambahkan. Sebagai perbandingan,  kawasan kumuh dan semrawut loket kereta api saja, di tangan Pak Jonan dapat dirubah jadi senyaman selasar mall. Apatah lagi museum, tempat karya avant garda intelektualisme peradaban. 


Di beberapa Negara, selain tempat piknik, museum adalah tujuan dan ikon wisata. Selalu ada dalam kalender tourism. Belajarlah mengelola museum secara modern. Tidak perlu jauh-jauh seperti ke British Museum, atau galery Leonardo da Vinci di Milan. Cukuplah ke Malang atau Solo misalnya.


Di museum transportasi Malang, anda bisa asyik seharian berelaksasi. Piknik. Demikian juga di Solo. Pabrik Gula yang angker peninggalan zaman kolonial, dapat disulap menjadi museum modern. Enak berselfie ria, atau buat foto prewedding. 

Semoga ke depan, kegairahan museum sebagai tujuan wisata edukatif yang menghibur, dapat semakin tumbuh. Mengimbangi mall atau bioskop yang juga bagian dari kehidupan generasi milenial. (Jakarta, September 2018)

Komentar
Berita Terkini