Vaksinasi Begu Attuk Di Tapanuli Tahun 1912

Oleh : Djalan Sihombing
Administrator Administrator
Vaksinasi Begu Attuk Di Tapanuli Tahun 1912
IST|Pelita Batak

DALAM catatan sejarah, vaksinasi di Hindia Belanda (Indonesia, sekarang) sudah dilakukan pada tahun 1912. Artinya, bahwa vaksinasi massal seperti vaksinasi covid-19 sudah ada lebih dari 100 tahun yang lalu.

Pandemi flu Spanyol juga sudah pernah terjadi di dunia. Krisis virus corona saat ini, akan menyadarkan manusia, tentang adanya virus mematikan yang melanda dunia di permulaan abad ke-20 tersebut. Wabah flu Spanyol menewaskan 40 sampai 50 juta orang dalam dua tahun, antara tahun 1918 dan 1920.

Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus COVID-19 pada Senin 2 Maret 2020. Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun. Kasus pertama tersebut diduga berawal dari pertemuan perempuan 31 tahun itu dengan WN Jepang yang masuk ke wilayah Indonesia.

Pemerintah secara resmi memulai program vaksinasi Covid-19 yang diberikan secara gratis kepada masyarakat Indonesia, diawali pada hari Rabu (13/01/2021) pagi. Ini ditandai dengan pemberian suntikan dosis vaksin pertama kepada Presiden RI Jokowi Widodo, di beranda depan Istana Negara. Untuk daerah Tapanuli sekitarnya dimulai Jumat (05/02/2021).

Vaksinasi pertama di Tapanuli Utara, Jumat 5 Februari 2021. Kegiatan vaksinasi tersebut pertama kali diterima Nikson Nababan beserta istri Sartika Simamora. Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan melaksanakan Vaksinasi Covid-19 Tahap Pertama bagi Tenaga Kesehatan dan Sepuluh Pejabat Publik Tahun 2021 (5/2) di Pelataran Perkantoran Bukit Inspirasi.

Pemerintah Kabupaten Toba pada hari ini Jumat (05/02/2021) tepatnya pukul 09.00 WIB melaksanakan Program Vaksinasi Covid-19 tahap Pertama secara terbuka dan gratis yang bertempat di Pendopo Kantor Bupati Toba,dalam Vaksinasi tahap pertama ini, terdapat 10 orang pejabat publik yang ada di Kabupaten Toba, mereka ialah pihak pertama yang mendapatkan suntikan Vaksin Covid-19 tersebut. Sedangkan Pemerintah Kabupaten Samosir melaksanakan pencanangan vaksinasi covid-19 Senin 08/02/2021 di halaman RSUD Dr. Hadrianus Sinaga.

Sesuai judul tulisan ini, sebenarnya kapan pertama kali vaksinasi massal di Tapanuli?

Dalam buku Tuan Manullang yang ditulis Prof. PTD Sihombing "Begu Attuk" yakni hantu yang terus menerus memukul yang sebenarnya adalah wabah kolera ganas dan yang sejenisnya. Orang Belanda menyebut bort untuk begu attuk. Orang Indonesia pada umumnya mengenal dengan nama muntaber (muntah berak).

Perbedaan covid-19,flu Spanyol disebabkan oleh virus, sedangkan kolera disebabkan oleh bakteri. Sama halnya dengan tifus dan disentri disebabkan oleh bakteri.

Asal-usul Kolera

Kolera diperkirakan berasal dari dataran di sekitar delta sungai Gangga dan Brahmaputra di India. Meski begitu, sebelum abad ke-19, sangat sedikit catatan tentang penyakit ini. Di saat yang sama kolera telah mengglobal dan jadi epidemi di mana-mana.

Tidak heran jika kemudian masyarakat Hindia Belanda (daerah jajahan Belanda), terutama Batavia, tergagap menghadapi wabah asing itu.

Wabah kolera menghantam Hindia Belanda pada pandemi gelombang pertama. Pada Desember 1819 pemerintah Hindia Belanda menerima peringatan kematian massal yang terjadi di Mauritius, Penang, dan Malaka akibat penyakit kolera. Saat itu diketahui bahwa daerah-daerah itu.

Daerah yang pertama terindikasi penyakit kolera di daerah sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Batavia, Semarang, hingga Surabaya,” tulis Usman Manor dalam skripsi di Program Studi Ilmu Sejarah FIB UI bertajuk Wabah Kolera di Batavia 1901-1927.

Kuman kolera, Vibrio cholerae, baru berhasil diidentifikasi pada 1883. Bahkan, sampai setidaknya 1860-an, tenaga kesehatan masih berdebat apakah kolera itu penyakit menular atau bukan.

Kolera kemudian jadi wabah musiman karena lambannya penanganan. Penyakit ini dengan cepat melejit jadi urutan ketiga penyakit yang paling fatal setelah cacar dan tifus dalam kurun 1800-1880. Dan lagi, epidemi 1820-1821 itu baru babak awal dari beberapa epidemi kolera yang mengguncang Hindia Belanda hingga paruh pertama abad ke-20. Seturut penelusuran Usman, wabah kolera yang besar terjadi lagi pada 1881-1882, 1889, 1892, 1897, 1901-1902, dan 1909-1911.

Dari serentetan epidemi itu yang paling parah adalah epidemi 1909-1911. Bermula dari Jambi, wabah lalu menyebar ke daerah lain di Sumatra, Jawa, dan Madura. Dalam tahun 1910 saja diperkirakan 60.000 jiwa tewas di Jawa dan Madura. “Hal ini membuat tahun 1910 dan 1911 dianggap sebagai tahun kolera.

Kolera dan Vaksinasi di Tapanuli

Di Tapanuli, penyakit kolera terjadi pada saat pasukan Pidari (Padri) menyerbu wilayah Batak Utara tahun 1820 sampai dengan1830-an. Sedangkan bila mengacu pada Almanak Tahunan HKBP, Tingki ni Pidari terjadi sekitar tahun 1825-1829, Porang ni Tuanku Rao (Perang Bonjol) yang datang memerangi "bangsa" Batak.

Pasukan Pidari terpaksa hengkang dari Tanah Batak Utara, akibat serbuan kejam jenderal alam wabah menular tersebut.

Konon wabah itu menyisakan orang Batak Utara sekitar 25 persen. Demikian pula dengan jumlah korban di pihak penyerbu sisanya sekitar 25 sampai dengan 30 persen, dan terpaksa mundur secara tidak teratur.

Vaksin kolera ditemukan tahun 1910. Vaksinasi di Hindia Belanda khususnya di Batavia dimulai pada tahun 1912.

Vaksinasi di Tapanuli mulai dilakukan pada tahun 1912. Pada waktu itu ada juga yang menolak divaksinasi. Di buku "Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatra : Tapanuli 1915-1940", yang ditulis oleh Lance Castles, Ompu ni Ottong menolak vaksinasi.

Salah satu pengikut Guru Somalaing, yaitu Ompu ni Ottong, yang menimbulkan kerusuhan ketika diadakan vaksinasi di Raut Bosi di Uluan pada tahun 1912. Vaksinasi dan pengobatan Barat lain umumnya ditolak oleh kaum Parmalim. Salah satu surat ditulis pada kulit bambu yang dipajang di pasar, Ompu ni Ottong menyatakan sikap perlawanan kaum Parmalim : Hei Parmalim, janganlah takut mengatakan bahwa kamu Parmalim, jangan lagi membayar pajak atau uang-tebusan (untuk kerja rodi kepada para pemimpin), dan jangan kamu divaksinasi; tolaklah semua yang tidak sesuai dengan agamamu.***

Penulis : Advokat dan Anggota Perkumpulan Na Ringgas Manjaha

Sumber sebagian dari artikel."Gara-gara Sanitasi Buruk, Wabah Kolera Melanda Hindia Belanda", tirto.id.

Komentar
Berita Terkini