TAK bisa kusangkal aku menitikkan air mata membaca berita anak kecil mungil Intan br Marbun, gadis kecil yangg manis tanpa dosa korban kebencian biadab yang mengatas nama agama.
Dan
Tiba tiba saja aku teringat adikku, anak Amanguda (adik kandung Bapakku), Jhonny Parulian Siagian dan Roy Hamonangan Siagian, dan itoku Hesty Uli Siagian yang kebetulan mereka Muslim. Aku tahu mereka tidak memilih menjadi orang yang lahir beragama Islam, sama dengan saya yang tak memilih lahir sebagai Kristen.
Selama ini kami begitu akrab tanpa sekat dalam hati kecuali sekat Iman yang tak pernah kami permasalahkan. Kami saling menghargai agama dan iman masing masing. Kami juga saling mengingatkan agar kami jangan membuat perbedaan Iman kami menjadi alat pembeda antara kami. Tetapi yang kami munculkan adalah bahwa Ompung kami adalah satu, Ompung yang melahirkan Bapak kami berdua.
Kami adalah saudara yang satu darah, dimana darah Ompung kami juga mengalir dalam darahnya sama seperti dalam darahku.
Kami begitu bangga dimana kami bisa saling menopang dan tidak merasa ada perbedaan yang membedakan kami.
Kami saling memahami, bahwa tak mungkin dipungkiri perbedaan ada di antara kami, tetapi di balik itu kami menyadari betapa jauh lebih banyak persamaan yang ada dalam diri dan kehidupan kami daripada perbedaan kami.
Itulah yang menumbuhkan rasa cinta, sayang, dan hubungan bathin dan emosional lainnya dalam hubungan persaudaraan kami.
Persamaan itu juga yang mendorong kami tetap bersaudara kandung dan saling memberi hati, perhatian dan saling menopang dalam suka dan duka.
Kami saling menyapa, saling bersilahturahim, saling membantu jasmani maupun rohani, material ataupun spritual terlebih spritualitas adat, budaya Batak sebagai suku kami.
Saling mengingatkan banyak hal dan saling membantu jika di antara kami perlu bantuan materi dan pemikiran. Tak pernah satu moment yang terjadi di dalam kehidupan kami yang terlewatkan tanpa saling berduskusi dan mohon doa. Betapa indahnya hubungan kami, karena tidak pernah menganggap agama dan iman kami lebih baik dan lebih benar dari yang lain. Betapa mesranya hubungan kami, karena kami sungguh menyadari kesamaan kami jauh lebih banyak dan jauh lebih berguna daripada perbedaan kami yang satu itu.
Adikku, Jhony Parulian Siagian, Roy Hamonangan Siagian, Hesty Uli Siagian. Kini abangmu ini kawatir.
Sebab aku tahu kalian meyakini iman dan agama kalian, sama seperti aku tetap teguh pada iman dan agamaku dalam kondisi apapun.
Aku jadi waswas dengan kondisi negara kita saat ini, dimana agama sangat dominan digunakan memperuncing perbedaan, memunculkan permusuhan, membakar emosi perselisihan untuk saling menghancurkan.
Adikku yang ku sayang dan tak pernah aku anggap ada pemisah antara kita, demikian juga sikap dan perbuatan kita.
Apakah kita akan bermusuhan?, saling menghujat, saling mengelemenir, saling menista, saling menghancurkan antara kita hanya karena Iman dan Agama kita berbeda.
Apakah kita harus saling melupakan persamaan kita yang baik itu lalu saling memunculkan perbedaan kita untuk menghilangkan persamaan kita yang indah itu?.
Adikku, aku tetap berharap, hubungan kita sebagai saudara, hubungan kekerabatan yang kita yakini bahwa darah kita adalah sama bisa langgeng dengan tidak terpengaruh hasutan orang yang ingin menghancurkan kebersamaan dan indahnya yang kita bangun dengan mengedepankan persamaaan bukan perbedaan Iman dan Agama kita
Adikku
Imanmu dan agamamu adalah milikmu, iman dan agamaku adalah milikku. Janganlah kita saling mengklaim yang terbaik adalah iman dan agama kita. Sebab, jika perbedaan itu kita pakai sebagai alat pembeda maka kita pasti bertolak belakang. Sementara kita menyadari kita adalah saudara satu darah, satu Ompung. Dan kita hanya menerima takdir sebagai orang yang akhirnya berbeda keyakinan.
Adikku,
Mari tetap menyadari bahwa perbedaan adalah harmoni bukan untuk diperdebatkan apalagi dipertentangkan. Mari tetap bergandeng tangan dalam persamaan kita, dan tetap saling mengasihi dalam persaudaraan. Karena itu akan jauh lebih baik seperti yang kita sudah sepakati dan lakukan selama ini.
HORAS.
Tansiswo Siagian.