Mengutamakan Tuhan Menyongsong Tahun yang Baru

Administrator Administrator
Mengutamakan Tuhan Menyongsong Tahun yang Baru
Ist | Pelita Batak
St. Adol Frian Rumaijuk,STP.,MMA
MENJELANG pergantian tahun, tidak sedikit orang Kristen yang memanjatkan doa dan harapan: “Tuhan, berkati aku di tahun yang baru.” Kita berharap tahun 2026 menjadi tahun penuh terobosan, kesehatan, keberhasilan, dan damai sejahtera. Namun, sebuah pertanyaan iman perlu kita renungkan dengan jujur: apakah kita sungguh mengutamakan Tuhan, atau justru melupakan Dia dalam praktik hidup sehari-hari, terutama dalam ibadah?

Firman Tuhan dengan jelas menegaskan:

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

(Matius 6:33)

Berkat Tuhan bukan hasil kebetulan, bukan pula semata karena kerja keras manusia, tetapi karena hubungan yang benar dengan Tuhan. Ketika ibadah diabaikan, ketika persekutuan dengan Tuhan dianggap tidak penting, maka sesungguhnya kita sedang memutuskan diri dari sumber berkat itu sendiri.

Belajar dari Tahun 2025: Penyertaan Tuhan Nyata

Tahun 2025 telah kita lalui dengan berbagai peristiwa. Ada sukacita, ada air mata, ada tantangan, bahkan peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang banyak kehidupan. Namun satu hal yang patut kita imani: kita masih berdiri sampai hari ini karena penyertaan Tuhan.

“Kasih setia TUHAN tak berkesudahan, rahmat-Nya tak habis-habisnya; selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

(Ratapan 3:22-23)

Jika Tuhan setia menyertai sepanjang tahun yang hampir berlalu, bukankah seharusnya kita menyambut tahun yang baru dengan ketaatan yang lebih sungguh, bukan dengan kelalaian rohani?

Ibadah Bukan Pelengkap, Melainkan Prioritas

Ironisnya, di awal dan akhir tahun, sebagian orang Kristen justru memilih:

kumpul keluarga tanpa ibadah, merencanakan perjalanan di jam ibadah, berleha-leha dalam kesenangan duniawi, namun tetap berharap Tuhan memberkati hidupnya.

Firman Tuhan mengingatkan:

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang.”

(Ibrani 10:25)

Ibadah bukan sekadar rutinitas gereja, melainkan wujud penghormatan, ketergantungan, dan kasih kita kepada Tuhan. Di sanalah iman dipulihkan, hati diluruskan, dan arah hidup diteguhkan.

Sikap Hidup yang Mengutamakan Tuhan

Mengutamakan Tuhan berarti:

- Menempatkan ibadah di atas agenda pribadi

Tuhan bukan sisa waktu, melainkan yang terutama.

- Menjadikan Firman Tuhan sebagai penuntun keputusan hidup

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)

- Hidup dalam kekudusan dan pengendalian diri

Menolak hal-hal kedagingan yang menjauhkan kita dari Tuhan.

- Mengandalkan Tuhan, bukan kekuatan sendiri

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu.” (Amsal 3:5-6)

Motivasi Menyongsong Tahun 2026

Tahun yang baru bukan jaminan bebas masalah, tetapi janji penyertaan Tuhan tetap berlaku bagi mereka yang setia.

“TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering.”

(Yesaya 58:11)

Jika kita rindu tahun 2026 menjadi tahun penuh berkat, damai, dan kemenangan iman, maka mari kita menyongsongnya dengan pertobatan, komitmen baru, dan kehidupan ibadah yang sungguh-sungguh.

Tuhan tidak mencari kesempurnaan, tetapi hati yang mau taat.

Ketika Tuhan diutamakan, berkat bukan lagi sekadar harapan, melainkan kepastian di dalam kehendak-Nya.

Amin.

Komentar
Berita Terkini