Medan (Pelita Batak):
Rangkaian
Muktakmar IDI XXXI Tahun 2022 memang telah usai pada Sabtu dini hari, 26 Maret
2022 lalu, yang ditandai dengan terpilihnya Ketua IDI DKI Jakarta, Dr. Slamet
Budiarto, S.H., M.H.Kes sebagai Ketua Umum Terpilih Pengurus Besar IDI Tahun
2022-2025, menyisihkan empat orang kontestan lainnya seperti Dr. Abraham Andi,
Dr. Ahmad Fariz, Dr. Mahesa Pranadipa dan Dr. Zul Asdi.
Dr. Slamet
Budiarto sendiri memperoleh 418 dari 1.358 suara dalam kontestasi bergengsi
tingkat nasional tersebut.
Namun kisah
hingar bingar penyelenggaraan Muktakmar IDI XXXI di Banda Aceh tersebut,
bukannya tidak meninggalkan kisah yang tidak enak didengar, dan bisa jadi
merupakan bagian dari hasil akhir kontestasi.
Sejumlah
narasumber di lingkungan tenaga medis dan pemerintahan menyebut-nyebut sebuah
nama ASN yang terlibat sangat dalam pada tapak gelap suksesi Ketua IDI Tahun
2022.
"Nama
dr. Takwallah memang sudah tidak asing lagi, selain sebagai seorang dokter
senior yang bersangkutan juga merupakan pemimpin pemerintahan atau pejabat
Sekretaris Daerah (Sekda) pada Pemerintah Aceh", ujar dr. A (inisial) saat
dikonfirmasi media, Minggu (17/4).
Ia menilai
bahwa sepakterjang Takwallah selama ini penuh kontroversi dan seringkali
diwarnai kisah intimidasi terhadap “kasta†di bawahnya.
"Ini
bukan lagi hal baru yang sering terdengar. Para wakil rakyat di lingkungan DPRA
dijamin hafal dengan sikap dan perilaku Takwallah," ungkapnya.
Narasumber
lainnya, tokoh partai berinisial J, mencontohkan bagaimana keterlibatan
Pemerintah Aceh yang dimotori Takwallah, secara “All out†untuk mempersiapkan
segala kebutuhan pada pelaksanaan Muktakmar. Antara lain menyiapkan “armadaâ€
kendaraan yang menfasilitasi para dokter selama di Banda Aceh.
"Kendaraan
ini terdiri dari Mobil Dinas SKPA, yang seluruhnya diperintahkan seenaknya oleh
Takwallah untuk melayani para peserta Muktakmar. Perintah Sekda ini jelas
membuat para Kepala SKPA terbebani, karena Sekda hanya “tahu beres†Kalau ada
Kepala SKPA yang berani saran atau kritik, sudah jelaslah akibatnya",
ungkap J, Senin (18/4).
Tapi yang
luar biasa, selain bagaimana Takwallah mengkondisikan penyelenggaraan Muktakmar
IDI di Banda Aceh tampak gemerlap dan spektakuler dengan alasan adat istiadat
“Pemulia jameeâ€, adalah keterlibatan Takwallah dalam suksesi untuk memenangkan
salah satu calon.
"Yah,
ada kedekatan khusus rupanya antara Takwallah dengan Dr. Slamet Budiarto, yang
akhirnya memenangkan kontestasi tersebut", ujar J.
"Hal
ini terendus pertama kali saat beredar kabar bahwa Ketua Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) Aceh, Dokter Safrizal tidak diperkenankan hadir pada Muktamar
IDI XXXI yang diselenggarakan di Banda Aceh mulai 22 hingga 25 Maret
2022", tambahnya.
Kemudian
beredar kabar lagi bahwa Takwallah melakukan intimidasi terhadap IDI Aceh agar
mengarahkan seluruh cabang IDI di Provinsi Aceh untuk memilih Dr. Slamet
Budiarto. Tentunya bukan hal yang sulit bagi Takwallah untuk melakukan hal
tersebut, sebagai seorang dokter senior yang menjabat Sekda, ia dapat menekan
para pengurus IDI Aceh, khususnya para dokter yang memiliki jabatan di
pemerintahan.
Lantas
siapa Dr. Slamet Budiarto sendiri? Dari penyampaian para peserta Muktakmar
bahwa sebelum pemilihan terjadi pengelompokan calon ketua umum, yaitu 4 calon
lainnya berseberangan dengan Dr. Slamet Budiarto, karena Dr. Slamet Budiarto
dinilai oleh kalangan IDI memiliki reputasi yang buruk dan tidak akan memajukan
IDI di masa mendatang. Termasuk untuk
IDI Aceh sebelumnya hanya IDI Kota Banda Aceh yang mendukung Dr. Slamet
Budiarto.
Sumber
mengkonfirmasi, dengan adanya keterlibatan langsung Takwallah melalui Wakil
Ketua Panitia Muktamar IDI XXI yang juga Sekretaris Umum IDI Kota Banda, dr.
Candra, maka cabang-cabang IDI Aceh lainnya ditekan untuk mendukung Dr. Slamet Budiarto sebagai calon Ketum PB
IDI.
Apa tujuan
Takwallah melibatkan diri dalam suksesi Ketua PB IDI tersebut? Yang jelas
terbaca adalah tendensi untuk dapat memiliki pengaruh secara mendalam di tubuh
IDI pada level Nasional. Dimana hal tersebut tentunya memiliki keniscayaan akan
membawa dampak buruk pada kepengurusan dan pengelolaan IDI di masa mendatang,
sebagaimana carut marut tata kelola di Pemerintahan Aceh selama Takwallah
menjabat sebagai Sekda.(tim)