Peringatan MayDay di Sumut, Nelson Manalu : Hari Buruh, Tentu Harus Dirayakan

Administrator Administrator
Peringatan MayDay di Sumut, Nelson Manalu : Hari Buruh, Tentu Harus Dirayakan
Adol Frian Rumaijuk | Pelita Batak
Ketua Pimpinan Daerah Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD FSP KEP SPSI) Provinsi Sumatera Utara Nelson Manalu, SH.,MH (kanan) dan Ronald anggota Federasi Serikat Pekerta Transport Indonesia (FSPTI

Medan (Pelita Batak):

Menjelang peringatan hari buruh internasional atau yang sering disebut MayDay sejumlah agenda direncanakan berbagai serikat buruh yang ada di Sumatera Utara. Perayaan hari buruh pada tahun-tahun sebelumnya dilakukan dengan aksi turun ke jalan dan penyampaian berbagai orasi dan atraksi lainnya.

Di Sumatera Utara, Ketua Pimpinan Daerah Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD FSP KEP SPSI) Provinsi Sumatera Utara Nelson Manalu, SH.,MH mengatakan, peringatan hari buruh tentu harus dilaksanakan. “Kita tetap laksanakan, bagaimana kemasannya sedang kita bicarakan dengan rekan-rekan dari serikat yang lain,” ujar Nelson kepada media, Kamis (13/4/2023).

Berbagai isu menarik mengenai regulasi terkait buruh dan pekerja dinilai relevan untuk diangkat dan dibahas pada peringatan mayday kali ini. Bagaimana memperjuangkan nasib para puruh, ditinjau dari jaminan kesehatan, kecukupan sandang dan papan, bahkan keberlanjutan dan pembinaan para buruh sesuai dengan regulasi yang pemerintah terapkan. “Banyak hal saat ini menjadi perhatian kita, diantaranya tentang UU Cipta Kerja dan Permenaker No 5 Tahun 2023. Khususnya di Sumatera Utara kini, kemungkinan-kemungkinan perlambatan peningkatan kesejahteraan para buruh bisa saja terjadi. Ada banyak faktor, bisa saja karena ekonomi global, nasional, regional maupun lokal,” ujarnya.

Sebagaimana pernyataan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi belum lama ini, dari sisi temuan kasus tuberkulosis di Indonesia didominasi buruh. Ada sekitar 54.800 buruh dan 51.900 petani yang terpapar tuberkulosis. “Nah, ini ada apa bisa seperti ini. Tentu yang membidangi ini adalah ahli-ahli kesehatan dan gizi kita, menjadi bagian dari kajian kita,” ujarnya.

Termasuk kebijakan baru ini, bagaimana Kemenaker mengeluarkan kebijakan bahwa soal perusahaan industri padat karya berorientasi ekspor bisa potong gaji karyawan hingga 25%. “Tentu di Sumut kita akan lihat hal-hal ini, sebagai pertimbangan masukan kita ke pemerintah nantinya,” ujarnya.

Namun ketika kembali ditanyakan, rencana aksi pada MayDay, Nelson menegaskan bahwa tidak ada yang bisa melarang perayaan yang akan dilaksanakan serikat buruh. “Sejauh kita masih tetap dalam koridor demokrasi, tentu tidak ada yang bisa melarang kita,” ujarnya. (TAp)

Komentar
Berita Terkini