JPU Dorong Wartawan MNC Saat Wawancara di PN Lubuk Pakam

admin admin
JPU Dorong Wartawan MNC Saat Wawancara di PN Lubuk Pakam
IST|Pelita Batak

Deli Serdang (Pelita Batak):

Enggan memberikan penjelasan tentang kasus yang sedang ditangani, seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU), NP, dinilai melakukan tindakan tidak terpuji. Peristiwa itu terjadi saat wartawan media televisi dari MNC group mencoba mengonfirmasi dugaan kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur, Jumat (8/10/2021).

Wartawan menanyakan seputar pelaksanaan sidang yang digelar pukul 18.00 - 21.00 WIB di ruang persidangan anak, Kantor Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 53 Lubuk Pakam. Tindakan JPU tersebut dinilai tidak terpuji dan terkesan menutupi informasi dari publik.

Tak mau berkomentar, wartawan pun menelusuri tentang kasus tersebut melalui pihak tergugat. "Kasus dugaan pencabulan terhadap korban berinisial AS (5) tersebut, saat ini masih membingungkan kita, karena kasus tersebut sudah di terbitkan Surat Penetapan Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap tersangka MH di Polrestabes Medan, pada tanggal 15 Mei 2020,” kata Poltak Silitonga kuasa hukum MH sebagai terlapor dalam kasus tersebut.

Menurut, Poltak Silitonga, sebagaimana sebelumnya kasus tersebut telah dihentikan. Namun, pihaknya merasa aneh kenapa kembali dibuka dan bahkan digelar persidangan. "Inikan klien saya dijebak ibu dari anak yang disebut sebagai korban dalam kasus itu, nyatanya tidak terbukti setelah keluar hasil visum ET Repertum di RSU Pringadi Medan sudah dilakukan pemeriksaan dan hasilnya Hymen pada selaput darah tidak robek dan selaput darah masih utuh. Hasil surat visum ET Repertum dikeluarkan oleh Prof DR M Yusuf Simbolon, M.SpKj," ujar Poltak Sabtu siang.

Dijelaskannya, kemudian pada tanggal 17 Maret 2020, surat permintaan Polisi hasil Psychiatrium Umum dari RS Bhayangkara Medan, korban mengalami gangguan pada pikiran dan terdapat emosional. Sementara hasil yang dikeluarkan sudah hampir 1 tahun.

Sementara itu, menurut penuturan Poltak, kliennya sempat menjalin hubungan asmara dengan ibu anak yang disebut sebagai korban, BS. Mereka menjalin asmara di luar sepengetahuan BS dan itu diakui klien Poltak.

"Mereka sempat menjalin hubungan asmara terlarang, sementara MH yang masih lajang saat itu juga memiliki kekasih yang untuk dinikahi kemudian, seorang gadis lulusan kedokteran. Namun, di tengah perjalanan hubungan mereka, BS seolah tidak terima dengan kebahagiaan yang akan diperoleh MH," ujarnya. Kuat dugaan alasan itulah, BS mengadukan MH ke Polrstabes Medan dengan tuduhan telah mencabuli putrinya.

Poltak menjelaskan, bahwa dalam laporannya BS menuduh MH telah mencabuli putrinya dengan memegang alat kelamin AS di dalam mobil MH. "Hasil laporan BS ke Polrestabes Medan, bahwa MH mengajak korban AS membeli permen ke Indomaret, dari situ dia mengajak korban jalan - jalan, sehingga MH memegang alat kelamin korban," tuturnya.

Jadi, Poltak melanjutkan, pihaknya semakin bingung dengan persidangan yang terus berjalan. Untuk itu, pihaknya berharap agar penegakan keadilan dilakukan dengan aturan dan ketentuan yang berlaku. (*)

Komentar
Berita Terkini