Ini Makna Pemberian Wayang Kulit untuk Gubernur Sumut

Administrator Administrator
Ini Makna Pemberian Wayang Kulit untuk Gubernur Sumut

Medan (Pelita Batak) :
Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Ir H Tengku Erry Nuradi, MSi mengatakan tingginya kultur adat budaya di Sumatera Utara (Sumut) yang penuh dengan keanekaragaman, masyarakat umumnya dan khususnya warga jawa di Sumut harus menjadi referensi bagi adat budaya lain.

Erry Nuradi menegaskan hal itu dalam pidatonya diacara Gebyar Suroan Pendowo Sumut 2016 di Lapangan Merdeka Medan, Sabtu (29/10) malam.

Erry juga mengatakan, Pendowo yang kredibilitasnya adalah warga Jawa, bisa memberikan makna dan arti yang positif ditengah-tengah masyarakat. Sehingga untuk rasa memiliki dan mencintai adat suku budaya serta etnis di Sumut bisa memberikan karakter dan potensi kedamaian dan keteladanan.

"Ketinggian budaya di sumut yang dikenalkan dengan ramah-tamah dan indahnya keaneka ragaman suku (ras) di Sumut, Pendowo dapat memberikan sinergisitas. Sehingga, Pendowo yang notabenenya suku jawa, bisa menjadi referensi adat budaya (suku) lainnya di Sumut," kata Erry Nuradi.

Gebyar Suroan Pendowo 2016 lanjut Erry, pada hakikatnya betapa pentingnya arti keagamaan yang begitu sakral bagi seluruh elemen pemuda dimasa moderen sekarang ini.

"Tradisi Suroan merupakan makna yang terdalam bagi konteks budaya adat jawa untuk meningkatkan karakter pemuda dengan zaman moderen. Mari bersama-sama membentuk partisipasi adat budaya di Sumut untuk membanggakan agar dapat terus berkesinambungan dan tidak mudah . Agar adat budaya jawa di Sumut tidak mudah terkontamninasi budaya lain (asing)," ujar Erry.

Sebelumnya, Dewan Pembina Pendowo Medan, Rianto Ahgly SH dalam arahannya mengucapkan terimakasihnya kepada semua pihak yang telah memberikan partisipasinya sehingga terwujudnya penyelenggaraan Pendowo dalam Gebyar Suroan Pendowo 2016.

"Terimakasih atas partisipasi yang diberikan. Persiapan dengan waktu seminggu membuktikan etos kerja mencintai pada bidang masing-masing," ungkap Rianto Ahgly SH yang juga pengurus Dewan Kesenian Kota Medan.

Rianto mengatakan, dirinya juga berharap kepada instansi pemerintah Kota Medan, agar kedepannya, kebudayaan di Kota Medan umumnya di Sumut, keperdulian terhadap budaya dan pengelolaan gedung taman budaya dikelola dengan baik.

"Dengan apa yang sudah dilakukan, kebudayaan adat buaya terus digalakan. Sehingga, apa yg sudah dilakukan dapat menjadi Destinasi kedepan dan seterusnya. Karena pagelaran Gebyar Suroan Pendowo 2016 merupakan sejarah bagi etnis Jawa yang dilakukan di titik nol (Lapangan Merdeka)," ungkap Rianto Ahgly.

Sebelum pembukaan Gebyar Suroan Pendowo 2016, acara dibuka dengan memulai Wayang Gatot Koco dan dilanjutkan dengan pembacaa do'a serta dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit yang meghadirkan dalang kembar langsung didatangkan dari Solo, Ki Jarot Soewarno S.Pd dan Ki Jarot Sutoto.

Selain Gubsu HT Erry Nuradi menerima wayang kulit Bolo Dewo, dua dalang kembar, Ki Jarot Soewarno S.Pd dan Ki Jarot Sutoto juga memberikan wayang kulit sebagai cinderamata kepada Walikota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi sebuah wayang Bolo Dewo Krisna.

Pemberian sebuah wayang kulit Bolo Dewo yang dilakukan oleh dalang Ki Jarot Sutoto, kepada Gubernur Sumut HT Erry Nuradi MSi, ternyata mengandung sebuah makna yang luas.

Ki Jarot Sutoto menuturkan, wayang kulit Bolo Dewo yang diberikan kepada orang nomor satu di Sumatera Utara itu, adalah sebagai lambang harapan, agar Gubsu Erry Nuradi tetap bersikap dan mempunyai tujuan memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat Sumatera Utara. "Gubsu Erry selalu arif dan bijaksana dalam memimpin Sumatera Utara itu," ujar Ki Jarot Sutoto.

Dalam kesempatan tersebut, Ki Jarot Sutoto juga menyampaikan, kalau dirinya memberikan apresiasi yang tinggi bagi masyarakat Sumatera Utara, khusunya kepada masyarakat suku Jawa. "Masyarakat Jawa di Sumut ini, lebih sopan dan santun, dari masyarakat Jawa sesungguhnya," sebutnya.

Karenanya, Ki Jarot Sutoto mengharapkan, agar masyarakat Jawa yang ada di Sumatera Utara khusunya yang ada di Kota Medan, selalu melestarikan budaya Jawa, dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan. "Tetap menjaga persatuan dan kesatuan," himbaunya.(TAp/rel)

Komentar
Berita Terkini