Marsada, Saroha, Sapingkiran

Oleh : Bachtiar Sitanggang
Administrator Administrator
Marsada, Saroha, Sapingkiran

PERSATUAN, bersatu, kesatuan sering kita dengar apabila menyangkut perkumpulan, baik menyangkut negara, partai politik, komunitas, profesi, alumni, dan organisasi massa. Sebab tanpa persatuan tidak akan mungkin suatu organisasi bisa melaksanakan maksud dan tujuannya.

Ternyata, persatuan itu juga tidak sesederhana yang diperkirakan banyak orang, ada juga jenis-jenisnya dan masih tergantung lagi pada para pelaksana organisasi itu baik pengurus maupun para anggotanya.

Jenis persatuan pernah saya dengar dari Brigadir Jenderal TNI Sarwo Edy Wibowo Pangdam II Bukit Barisan ketika berkunjung ke Pangururan Samosir (Kabupaten Tapanuli Utara-waktu itu) di tahun 1967. Saat itu Sarwo Edy termasuk tokoh sentral yang menumpas pemberontakan G-30-S/PKI, bersama Kadapol Sumatera Utara Brigjen (Pol) Drs. Widodo Budidharmo berkunjung ke Samosir, saya masih kelas II SMAN Pangururan sebagai anggota Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) bersama teman mendapat tugas “mengawal” untuk mengapit jenderal baret merah, dengan baju loreng lengan baju digulung serta sangkur di pinggang, sejak turun dari kapal sampai ke lapangan upacara menjadi tontonan, karena sebelumnya belum pernah lihat segagah itu.

Selama mantan Komandan RPKAD itu berpidato saya dan teman dengan menggunakan dasi merah-putih “kacu” Pramuka tetap mendampinginya.

Dari pidato beliau yang saya ingat sampai sekarang dan sering saya kutip dalam tulisan, persatuan itu ada tiga. Pertama dengan memberi contoh seperti sebatang pohon, dengan menunjuk pohon kelapa yang ada di depannya, bersatu dari akar sampai pohon dan daun. Kedua, persatuan para penjudi, di mana beberapa orang bersepakat untuk bersatu melakukan kegiatan tetapi saling mengalahkan. Dan ketiga, persatuan segumpalan pasir, bersatu bukan karena kehendaknya dan berpisah pun demikian mudah tercerai berai sesuai dengan keadaan, misalnya ada yang melintas, sebagian pasir akan terbawa kaki.

Memang situasinya saat itu sungguh membutuhkan persatuan nasional setelah Gerakan 30 September/PKI, dan seingat saya beliau menekankan perlunya pesatuan seperti pohon dan tidak seperti penjudi dan pasir yang mudah terhembus angin.

Masalah persatuan itu menggeliat lagi dalam benak saya setelah 54 tahun lalu, yaitu saat pelantikan Pengurus Punguan Raja Sitanggang dohot Boru se-Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi Minggu siang, dengan Ketua Drs. Muller Sitanggang, M.Si., Sekretaris Hoddy Sitanggang, S.E., dan Bendahara Umum Ny. Situmeang Boru Sitanggang.

Salah seorang dari lima natua-tua yaitu Dr. Sudin Sitanggang memberikan wejangan kepada semua hadirin, bahwa dalam organisasi itu perlu Marsada, Saroha dan Sapingkiran (Bersatu, Sehati, Sepikiran). Bahwa dalam hidupnya organisasi perlu persatuan, tetapi persatuan tidak cukup harus satu hati sesama pengurus dan anggota.

Bersatu dan sehati juga harus sepikiran, sebab kalau pikirannya lain-lain persatuan tidak ada arti. Marsada, saroha jala sapingkiran adalah syarat utama dari suatu organisasi agar dapat mencapai tujuan, kalau tidak organisasi akan sia-sia, kata Dr. Sudin.

Kedua pendapat ini mengingatkan saya pada situasi sekarang, bagaimana pentingnya persatuan itu dikumandangkan kembali sekaligus memaknainya.

Negara kita negara kesatuan, perlu didukung sehati sepikir, tidak hanya oleh warganya tetapi lebih penting para pemimpin dan tokoh masyarakat, sebab belakangan sering terjadi perdebatan yang tidak perlu sampai-sampai menjemukan, artinya menunjukkan timbul ketidak sehatian dan ketidak sepikiran. Pancasila adalah dasar negara perekat persatuan dan kesatuan NKRI dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Pemerintah sekuat tenaga dan kemampuan berusaha memutus penyebaran Covid-19 tetapi masih pengusaha yang mengeruk untung dari musibah Covid-19. Malah ada tokoh nyeleneh terhadap vaksin dan bahkan “lebih baik bayar lima juta dan keluarganya daripada divaksin” dan lain-lain. Memang sudah jarang kita mendengar saat ini “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Semoga para orang tua memberi keteladanan kepada generasi muda akan pentingnya persatuan, sehati, sepikir-Marsada, saroha, sapingkiran.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini