Kalau Tak Akur, Tuhan Tak Memberkati

Oleh : Bachtiar Sitanggang
Administrator Administrator
Kalau Tak Akur, Tuhan Tak Memberkati
IST|Pelita Batak

BULAN Juli 2021 lalu Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi melantik dua pasangan Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal dan Labuhanbatu Selatan di aula tengku Rizal rumah dinasnya. (Kompas.com - 22/07/2021).

Mereka yang dilantik itu adalah pasangan Jakfar Sukhairi Nasution-Atika Azmi Utammi Nasution (Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal) serta pasangan Edimin-Ahmad Padly Tanjung (Bupati dan Wakil Bupati Labuhanbatu Selatan).

Kepada yang dilantik, Edy berpesan agar mereka selalu menjaga kekompakan. Sebab, banyak sekali dia temukan, baik bupati maupun wali kota, yang tidak akur dengan wakilnya. "Biasanya akurnya hanya tiga bulan, lepas dari tiga bulan masa kepemimpinan, pasangan kepala daerah mulai menunjukkan tanda-tanda tak akur. Dan itu yang saya alami, saya lihat," ungkapnya.

Edy menyebutkan, bupati dan wakil bupati itu merupakan satu kotak. Satu kotak itu harus mampu bekerja sama dengan baik, sekaligus memanfaatkan sumber daya dan potensi daerah untuk melayani masyarakat. Kalau tak akur, Tuhan tak memberkati.

Sengaja berita di atas dikutip berkaitan berita “Bupati Lantik Pejabat Eselon lll Tanpa Rekomendasi Wakil Bupati (Mediadelegasi Jumat, 31 Desember 2021). Menurut berita tersebut, Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom melantik pejabat eselon III di jajaran Pemkab Samosir, yang digelar di Aula Kantor Bupati Samosir, tanpa dihadiri Wakil Bupati Drs. Martua Sitanggang, M.M., selaku Wakil Bupati Samosir tidak tampak hadir dalam acara pelantikan tersebut.

Martua Sitanggang, katanya mengatakan pelantikan itu tidak ada rekomendasi darinya dan tidak pernah dibahas bersama Bupati Samosir sehingga dia tidak mengetahui jadwal pelantikan itu. Sesaat seusai pelantikan, Bupati Vandiko Timoteus Gultom, menjawab pertanyaan wartawan bahwa pelantikan itu lanjutan dan sudah sesuai hasil assesment dan rekomendasi dari Komisi ASN.

Mengikuti berita yang beredar, bahwa Wakil Bupati memang tidak memberikan rekomendasi, namun rekomendasi Komisi ASN, sebagaimana diakui Bupati. “Ia menampik rumor yang berkembang yang menyebut pelantikan pejabat eselon III tidak diketahui Wakil Bupati” dengan menambahkan “Pelantikan ini diketahui wakil, kami kerja sama, ini sebagai lanjutan yang kemarin dan sesuai dengan rekomendasi Komisi ASN,” ujarnya.

Kita mengharapkan agar keduanya mengingat ungkapan Gubernur di atas, agar keduanya diberkati Tuhan sebagai “Parhobas-pelayan” di Samosir untuk kemakmuran masyarakat.

Keduanya perlu mengingat sumpah jabatan masing-masing di depan Tuhan, serta peraturan perundang-undangan, etika dan moral sebagai pejabat.

Seperti yang dikemukakan Edy Rahmayadi di atas, bahwa Bupati dan Wakil Bupati itu “satu kotak”, artinya harus akur, sehati sepikir, kalau tidak bagaimana mau bekerja dengan baik dan berhasil?

Barangkali para pemangku jabatan/status perlu mengingat sumpah/janji Jabatannya di depan Tuhan Allah, artinya bahwa yang bersumpah itu harus sadar bahwa sumpah itu bukan hanya seremonial, dan bukan orang lain, badan atau lembaga yang terkena “berkat dan bebannya”.

Saya teringat cerita teman tentang mantan Bupati Humbahas Drs. Maddin Sihombing, M.Si., setiap pelantikan perangkat Kabupaten, SK-nya ditandatangani pada saat mau pelantikan, artinya tidak ada yang “kendalikan” dia, dan sebelum menandatangani SK terebih dahulu pegang kitab suci yang tersedia di mejanya.

Ketika ramai-ramainya Kepala Daerah dan pejabat terkena OTT KPK dan disidangkan, pernah group WA “Na Ringgas Manjaha” membuat daftar apa-apa yang perlu dilakukan agar pejabat tidak terkena kasus korupsi.

Ada yang mengusulkan agar pejabat itu berani mengatakan “Jika ya hendaklah kamu katakan ya jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, sebab apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37).

Dalam melaksanakan tugas, fungsi dan tanggungjawab selalu ingat sumpah/janjinya. Memang tidak bisa dihindari sebagai “petugas partai”, agama dan dalihan na tolu, tetapi tetap ingat sumpah/janji di hadapan Tuhan.

Selain itu ada yang berpendapat seorang pejabat perlu penasihat seperti Nabi Natan yang berani menegor Raja Daud, dan “.....berkatalah Natan kepada Daud : “Engkaulah orang itu!” (2 Samuel 12: 7).

Kalau diberkati Tuhan, pasti apa yang dikerjakan harus diyakini, sebab bukan “jangan kehendakku Bapa, kehendakMU jadilah”.

Oleh karenanya, apa yang dikemukakan Edy Rahmayadi itu adalah berdasar pengalamannya serta diketahui banyak orang, tidak adanya “tidak sehati sepikir” yang dalam “satu kotak”.

Dengan saling asih, asah, asuh sesama “sekerja’ akan diberkati Tuhan dan akan dipermudah mengatasi segala persoalan, sebab dengan berdamai dengan diri sendiri akan mudah berdamai dengan orang lain. Satu kotak itu jangan sampai bocor apalagi dipecah belah pihak lain, sebab kalau demikian isi kotak itu akan “busuk atau lapuk”. Semoga semua pihak tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, kelompok tetapi marilah berusaha memikirkan kemajuan masyarakat Samosir, yang masih tertinggal jauh dari daerah lain.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini