Jakarta (Pelita Batak):
Ketika seorang perempuan memasuki usia 35 tahun dalam keadaan lajang, pertanyaan yang muncul biasanya masih itu-itu saja: kenapa belum menikah, terlalu sibuk bekerja, atau terlalu pemilih? Jika ia menjalin hubungan dengan laki-laki yang lebih muda, pilihannya kembali menjadi bahan penilaian.
Situasi ini menunjukkan bahwa kehidupan romantis perempuan masih sering dipandang memiliki batas waktu. Ada tahapan yang dianggap harus tercapai pada usia tertentu, mulai dari menemukan pasangan hingga menikah dan membangun keluarga. Perempuan yang menjalani hidup di luar urutan tersebut akhirnya ditempatkan seolah-olah tertinggal.
Tekanan untuk menikah bukan sekadar komentar yang lewat begitu saja. Penelitian yang dipublikasikan dalam Persona: Jurnal Psikologi Indonesia terhadap 196 perempuan lajang berusia 25??"55 tahun menemukan bahwa stereotip negatif dapat menurunkan kesejahteraan psikologis mereka. Ketakutan menjadi lajang juga ditemukan memperkuat dampak tersebut. Artinya, pertanyaan soal kapan menikah, anggapan terlalu pemilih, atau penilaian terhadap pilihan pasangan dapat berkembang menjadi tekanan emosional yang nyata.
Tekanan ini semakin terasa ketika perempuan memasuki usia yang dianggap melewati “batas ideal” untuk menikah. Padahal, perjalanan setiap orang dalam menjalani hubungan tidak bergerak dalam waktu yang sama. Ada yang menemukan pasangan sejak muda, ada yang memulai kembali setelah berpisah, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang sebelum merasa siap membuka hati.
Pengalaman Mengubah Cara Seseorang Menjalani Hubungan
Jatuh cinta mungkin bisa terjadi tanpa direncanakan, tetapi keputusan untuk membangun hubungan di usia matang sering melibatkan pertimbangan yang lebih kompleks. Seseorang datang dengan pengalaman, tanggung jawab, serta pemahaman yang lebih jelas mengenai apa yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan.
Luka dari hubungan sebelumnya juga dapat memengaruhi cara seseorang memberikan kepercayaan. Karena itu, kehati-hatian perempuan dewasa tidak selalu berarti dirinya terlalu pemilih. Ia mungkin sedang memastikan bahwa hubungan yang dijalani dapat memberikan rasa aman, penghargaan, dan ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Pengalaman tersebut tergambar dalam perjalanan Sonya, karakter yang diperankan Raihaanun dalam WeTV Original Tante Sonya. Di usia 42 tahun, Sonya telah membangun kehidupan dan kariernya sendiri setelah mengalami pengkhianatan menjelang pernikahan. Sejak saat itu, ia memilih menjaga jarak dari hubungan romantis dan mengalihkan perhatian pada pekerjaan.
Pertemuannya kembali dengan Ben, yang diperankan Maxime Bouttier, perlahan menggoyahkan pertahanan tersebut. Ben bukan sosok yang benar-benar asing bagi Sonya. Delapan tahun sebelumnya, Sonya pernah membantunya melewati masa sulit. Namun ketika mereka kembali bertemu, Ben telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa, sementara Sonya masih melihatnya sebagai seseorang dari masa lalu yang pernah ia bantu.
“Sonya tahu dirinya punya perasaan kepada Ben, tetapi menerima perasaan itu tidak mudah. Ia pernah dikhianati dan kini berhadapan dengan laki-laki yang usianya 14 tahun lebih muda. Jadi, konflik Sonya bukan soal cinta saja. Ia juga mempertanyakan apakah hubungan ini aman untuk dijalani dan apakah dirinya siap mengambil risiko sekali lagi,” ujar Surya Ardy Octaviand, Sutradara WeTV Original Tante Sonya.
Ketika Perempuan Menjadi Pasangan yang Lebih Tua
Keraguan Sonya juga tidak lepas dari jarak usia di antara mereka. Sonya berusia 42 tahun, sedangkan Ben 14 tahun lebih muda. Perbedaan tersebut membuat hubungan mereka rentan dipertanyakan, baik oleh Sonya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Hubungan dengan jarak usia sebenarnya bukan hal baru. Namun, respons yang muncul kerap berbeda ketika perempuan menjadi pihak yang lebih tua. Pilihannya dapat dikaitkan dengan penampilan, usia reproduksi, bahkan dicurigai sebagai hasil ketidakmampuannya mendapatkan pasangan sebaya.
Sebaliknya, laki-laki yang menjalin hubungan dengan perempuan lebih muda cenderung dianggap lumrah. Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa usia masih digunakan untuk mengukur daya tarik dan kelayakan perempuan dalam menjalani hubungan.
Padahal, kedewasaan tidak selalu berjalan lurus dengan angka usia. Cara seseorang berkomunikasi, menghargai batasan, menghadapi konflik, dan memberikan rasa aman juga menentukan kesiapan dalam membangun hubungan.
Dalam hubungan Sonya dan Ben, kepercayaan tidak muncul seketika. Ben perlu menunjukkan bahwa perasaannya bukan kekaguman sesaat, sementara Sonya harus berdamai dengan ketakutan yang selama ini membuatnya menutup diri. Kedekatan mereka tumbuh melalui perhatian kecil dan kemauan untuk saling memahami.
Memberi Ruang bagi Cerita Cinta Perempuan Dewasa
Kisah romansa perempuan usia 40an masih jarang mendapat ruang dalam tayangan populer di Indonesia. Ketika hadir, ceritanya sering berpusat pada upaya mencari suami, mengejar waktu, atau kecemasan menghadapi usia. Padahal, kehidupan perempuan dewasa jauh lebih luas daripada status hubungannya.
“Cerita cinta perempuan usia 40an masih jarang diceritakan dari sudut pandang perempuannya sendiri. Pembahasannya sering langsung tertuju pada status pernikahan atau usia pasangan. Melalui Tante Sonya, kami ingin melihat apa yang sebenarnya dialami perempuan ketika mencoba membuka hati kembali, mulai dari luka yang masih dibawa hingga keberanian untuk mempercayai orang lain,” kata Febriamy Hutapea, Country Head WeTV Indonesia.
Perjalanan Sonya menunjukkan bahwa membuka hati di usia matang bukan berarti mengejar sesuatu yang tertinggal. Baginya, cinta hadir ketika ia mulai berani menghadapi kembali pengalaman yang selama ini dihindari.
Pada akhirnya, tidak ada satu garis waktu yang berlaku untuk semua orang. Perempuan dapat menemukan cinta untuk pertama kalinya, memulai kembali, atau memilih tetap sendiri tanpa perlu dianggap gagal mencapai tahap tertentu.
Pertanyaan yang perlu diajukan pun bukan lagi mengapa seorang perempuan baru jatuh cinta di usia setelah 35 tahun. Yang lebih penting adalah apakah hubungan tersebut membuatnya merasa aman, dihargai, dan memiliki ruang untuk bertumbuh.
WeTV Original Tante Sonya, yang dibintangi Raihaanun, Maxime Bouttier, Dinda Kirana, Hamish Daud, dan Kresna Julio, dapat disaksikan secara eksklusif di WeTV.(*)