Medan(Pelita Batak): Pada awal era 1950-an hingga tahun 1990-an, sosok Tumpal Dorianus Pardede atau yang biasa dikenal dengan nama TD Pardede sangat berpengaruh di Sumatera Utara (Sumut). Di masa itu, mungkin hanya sedikit yang tidak kenal si raja bisnis Indonesia dari Tanah Batak itu. Saat ini, TD Pardede masih tetap eksis di Sumut melalui beragam peninggalannya. Masyarakat Sumut mungkin masih ingat kisah soal "segunung" kekayaannya, terutama saat warisan yang ditinggalkannya kepada anak-anaknya menjadi perebutan di era 1990-an awal pasca dia meninggal pada 18 November 1991.
Berbagai media saat itu kerap menjadikan cerita itu dengan kemasan berita yang menarik. Tapi yang menjadi fokus tulisan ini bukan itu, melainkan siapa sosok TD Pardede. Bulan Oktober dan November memiliki keterkaitan dengan sosok TD Pardede, sebab miliarder dari Tanah Batak ini lahir pada 16 Oktober 1916 dan meninggal pada 18 November 1991. Lahir di Balige yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) ketika negeri ini masih dalam cengkeraman kolonialisme, anak bungsu keturunan salah satu Raja Ihuta di Tanah Batak itu selanjutnya dikenal sebagai pengusaha sukses dengan berbagai macam bidang usaha.
Selain sebagai pengusaha TD Pardede juga dikenal sebagai sosok yang memiliki jiwa sosial dan religi yang sangat tinggi. Sosok pengusaha dari kalangan bumiputera Tanah Batak yang memiliki harta kurang lebih Rp50 miliar pada tahun 1980-an, sebuah angka fantastis, apalagi jika disetarakan pada kondisi saat ini angkanya bisa mencapai triliunan rupiah. Penggiat sejarah yang juga alumni pendidikan sejarah Universitas Negeri Medan (Unimed), Rahmat Ramadhan Syahputra, mengatakan, kekayaan yang dimiliki TD Pardede menempatkan beliau bukan hanya sebagai pengusaha sukses tetapi juga memiliki nominal harta yang cukup disegani bukan hanya di Indonesia melainkan Asia Tenggara dan Asia.
Dari beberapa tulisan mengenai sosok TD Pardede, Rahmat melihat kemampuan visioner TD Pardede sangat tajam untuk seseorang yang hidup di Tanah Batak pada masa kolonialisme Belanda. Meskipun dia merupakan keturunan salah satu Raja Ihutan di Tanah Batak, tetapi sebagai seorang lelaki bungsu, TD Pardede juga memiliki tantangan lain, sebab hanya mendapatkan beberapa bidang sawah dari ayahnya, Willem Pardede. "Entah itu dikarenakan posisinya sebagai bungsu yang tidak mendapatkan banyak harta dari ayahnya, makanya dia menjadi seorang yang sangat gigih dalam berekonomi atau dikarenakan hal lain. Tetapi yang dapat saya kutip disini, sosok TD Pardede memang memiliki bakat berekonomi yang sudah didapatnya sejak masih kanak-kanak. Cara dia membaca situasi ketika usia masih lima tahun adalah sebuah bakat alam dengan menjadikan situasi dan kondisi kala itu sebagai model hidupnya," ujar Rahmat, seperti dikutip dari Okezone.
Sejak usia lima tahun, TD Pardede dikenal sebagai seorang anak yang sangat andal bermain kelereng di kampungnya, Desa Tambunan Lumbangaol, Balige. Bukan dengan keandalannya bermain kelereng melainkan dengan cara berpikirnya yang jauh ke depan dengan menjual kembali hasil kelereng yang didapatkannya dari perlombaan dengan teman-teman sebaya di kampungnya. Uang hasil penjualan kelereng tersebut tidak dihabiskan untuk jajan tetapi ia simpan sebagai modal untuk membeli kembang gula yang ia jual kembali kepada teman-teman sekolahnya.
Ketika TD Pardede sekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Balige, dia sudah dapat membiayai hidupnya sendiri, terutama untuk biaya pendidikannya. "Bayangkan seorang bungsu yang umumnya adalah sosok manja yang selalu ingin mendapat perhatian lebih dari orang tuanya malah terbalik dengan memanjakan dirinya sendiri melalui bakat yang menghasilkan uang untuk hidupnya sendiri. Dan itu ia lakukan sejak masa dia kanak kanak hingga bersekolah formal," kata Rahmat. Lepas masa sekolah formal, seperti kaum bumiputera yang terdidik pada umumnya, maka dia pun ditempatkan pada salah satu instansi milik Belanda.
Di awal karier, ia bekerja di Central Plantation Hospital, rumah sakit perkebunan milik Belanda di Kota Langsa, Aceh Timur. Tidak perlu menunggu waktu lama bagi TD Pardede untuk memunculkan kembali jiwa bisnisnya. Tiga tahun bekerja di rumah sakit itu, ia sudah bisa menjadi makelar pemasok obat. Untung yang didapatnya sebagai makelar bisa sampai tujuh kali lipat dari gaji yang ia terima sebagai pegawai rumah sakit sebesar 10 Gulden per bulannya. Selepas bekerja sebagai pegawai rumah sakit, TD Pardede muda bekerja sebagai pegawai perkebunan milik Belanda di Dolok Ilir, Kabupaten Deliserdang saat ini.(R2/okezone)