Reklamasi Jamin Kelestarian Lingkungan Tambang Emas Martabe

Oleh : Saut Togi Ritonga
Administrator Administrator
Reklamasi Jamin Kelestarian Lingkungan Tambang Emas Martabe
Saut Togi Ritonga| Pelita Batak

TAMBANG Emas Martabe di kelola oleh PT Agincourt Resources dengan wilayah kerja meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara dalam bentangan pegunungan bukit barisan yang mulai berproduksi sejak 24 Juli 2012 silam.

Seperti halnya pertambangan lainnya, Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources merupakan salah satu tulang punggung pembangunan bagi Negara Indonesia.

Saat ini tambang emas Martabe memiliki pit purnama, pit barani dan pit ramba joring yang berada di kecamatan Batangtoru kabupaten Tapanuli Selatan dengan rencana produksi hingga tahun 2033 dan menjadi salah satu tambang emas terbesar di Indonesia, dengan tingkat produksi nomor 2 di Indonesia setelah tambang Grasberg, dan dengan cadangan emas nomor 4 terbesar di tanah air.

Tambang emas martabe memiliki luas areal mencapai 1.303 km persegi yang penambangannya di dilakukan secara terbuka, yaitu berada di daerah perbukitan atau punggung bukit yang memiliki kandungan emas dan tentunya bersinggungan dengan kondisi ekosistem alam dan lingkungan hidup.

Kegiatan pertambangan memiliki dampak bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Mengalami konsekuensi yang serius berkelanjutan sepanjang masa. Oleh sebab itu pengelohan lahan bekas tambang sangat penting untuk menjadi perhatian utama dalam kegiatan tata kelola pertambangan.

Salah satu komitmen pengelola tambang emas Martabe dalam keberlangsungan lingkungan hidup maupun ekosistem di wilayah kerjanya dengan pelaksanaan reklamasi berupa

kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.

Hal itu bertujuan agar lahan yang sudah dipakai nanti bisa di gunakan kembali secara berkelanjutan untuk melakukan konservasi lingkungan hidup dan konservasi sumber daya mineral sesuai kebijakan terkait pengelolaan bekas tambang secara berkelanjutan dengan prinsip Good Mining Practice.

PT Agincourt Resources selaku pengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan telah melakukan rehabilitasi lahannya seluas 3,81 hektare pada tahun 2020 atau melebihi target rencana reklamasi tahun 2017 - 2021 yang disetujui Kementerian ESDM yakni seluas 3,34 Hektar. Hal itu dilakukan sebagai komitmen perusahaan dalam menjaga lingkungan.

Selain merehabilitasi lahan, PTAR juga melakukan stabilisasi lahan seluas 35,5 hektare dengan tanaman tutupan sebanyak 2.886 bibit tanaman dan juga telah menyiapkan total 5.828 bibit dari 45 spesies tanaman di fasilitas pembibitan (nursery) perusahaan.

PTAR sebagai pertambangan emas berkelas dunia dan menerapkan bisnis yang berkelanjutan, sudah memenuhi seluruh kewajiban oleh pemerintah pusat dan daerah dalam pengelolaan lingkungan, seperti misalnya pengelolaan air, tailings, pemantauan udara, hingga rencana penutupan tambang yang aman dan stabil.

Berbagai program dilakukan untuk memastikan PTAR memberikan dampak positif bagi masyarakat tanpa mengabaikan keberlangsungan lingkungan hidup atau biodiversity.

Salah satu yang penting dalam menjaga keberlangsungan lingkungan hidup ini adalah adanya inisiatif dari PTAR untuk membuat panduan baku atau standar operasional prosedur (SOP) dalam hal identifikasi dini satwa atau fauna pada lahan yang akan dibuka untuk kepentingan operasional tambang. Hal itu sebagai upaya untuk melestarikan dan melindungi keberadaan fauna terutama jenis yang dilindungi.

PTAR sudah mengalokasikan sumber daya untuk pengelolaan dan pemantauan lingkungan di tahun 2020, dengan biaya sebesar USD 6,45 juta dan di tahun 2021 sebesar USD 9,2 juta yang meliputi dana pelaksanaan pengelolaan lingkungan, sumber daya manusia untuk melaksanakan tugas pengelolaan lingkungan, serta penggunaan teknologi untuk memastikan pengelolaan lingkungan yang optimal.

Target utama kebijakan PTAR terkait perlindungan terhadap keanekaragaman hayati adalah ekosistem yang berada di dekat dengan wilayah kerja Tambang Emas Martabe, sebab meskipun wilayah kerja PTAR di luar kawasan yang dilindungi, tetapi dekat dengan kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.

PTAR menyadari kegiatan operasi yang dilakukan berpotensi memengaruhi keberlangsungan hidup fauna maupun flora yang ada di sekitarnya karena itu berkomitmen meminimalkan dampak dari kegiatan operasinya dengan melakukan upaya pencegahan, minimalisasi dan mitigasi risiko terhadap keanekaragaman hayati sepanjang siklus bisnis perusahaan, tanggung jawab terhadap tata guna lahan serta merencanakan dan memodifikasi desain, konstruksi dan praktik operasi untuk melindungi spesies fauna dan flora tertentu yang endemik atau dilindungi.

Reklamasi sendiri merupakan implementasi dari ketentuan

Undang Undang Nomor 4 Tahun 2009, Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pasca tambang. Kemudian Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2014, Permen ESDM Nomor 26 tahun 2018 serta Kepmen ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik.

Kegiatan pasca tambang adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah pertambangan yang diwujudkan dengan reklamasi atau rehabilitasi lahan.

Reklamasi dan rehabilitasi lahan yang dilaksanakan di tambang emas Martabe oleh PT Agincourt Resources menjadi jaminan kembalinya fungsi lingkungan alam atau tata guna lahan sebelum dan sesudah kegiatan eksplorasi.

Pemanfaatan lahan pasca tambang di tambang emas Martabe nantinya diharapkan memiliki keberlanjutan nilai sosial, sehat lestari dan ekonomi bagi masyarakat di lingkungannya baik bagi lahan pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata dan lainnya.

Penulis : Saut Togi Ritonga

Wartawan Pelita Batak Com

Komentar
Berita Terkini