Peryaan Natal: Antara Semenanjung Arab dan Indonesia

Oleh : Pastor Rantinus Manalu
Administrator Administrator
Peryaan Natal: Antara Semenanjung Arab dan Indonesia
IST|Pelita Batak

MENJELANG Perayaan Natal tahun ini, dan memang sengaja diresmikan menjelang perayaan natal, gereja Katolik Roma terbesar di semenanjung Arabia diresmikan (10 Desember 2021). Dengan peresmian yang dilakukan oleh Kardinal Tagle dan Raja Bahrain ini, umat Katolik akan sangat bersuka cita merayakan Natal dalam gedung yang megah dan besar, yang sudah lama mereka dambakan. Paus dan tentu Gereja Katolik secara keseluruhan sangat berterimakasih kepada Sang Raja Kerajaan di Bahrain atas dukungan yang diberikan bagi pembangunan gereja ini. Yang dulu dihalangi sekarang didukung.



Sementara itu di negara kita yang dalam falsafah negaranya Pancasila, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa larangan bagi umat muslim mengucapkan Selamat Natal dan merayakan Tahun Baru.

Sebenarnya, Umat Kristen sendiri kalau jujur, tidak juga menuntut umat muslim agar mengucapkan selamat Natal kepada mereka. Apalagi, di masa pandemi ini, ada keengganan menerima salam dengan berjabat tangan. Orang Kristen akan tetap bahagia dan gembira tanpa merasa rugi sedikitpun bila umat muslim tidak mengucapkan selamat natal pada momen Perayaan Natal nanti.

Saya berteman akrab dengan banyak muslim, ada juga yang ustad. Pada saat perayaan natal saya tidak terlalu perhatikan siapa dari mereka yang mengucapkan salam natal itu. Kalau meraka kirim pesan kubalas dengan sederhana. Jika tidak, saya pun tidak perduli. Natal itu bagi saya hanya momen yang mengingatkan saya akan kasih dan solidaritas Allah dalam kasih pada saya yang percaya. Bukan pada orang lain.

Hanya kebersamaan, kerukunan dan persaudaraan sebangsa dan setanah air, membuat saya pribadi menerima dengan senang hati ucapan selamat natal itu dari saudara-saudara muslim. Kalau ada mengucapkannya. Karena negara kita ini negara yang membutuhkan silaturahmi yang terus menerus dalam banyak kesempatan membangun kerukunan guna menguatkan ikatan kebangsaan kita dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini.

Yang tidak bisa dielakkan dan dibendung oleh Umat Kristen adalah ucapan selamat Natal yang bertebaran dimana-mana, lewat baliho dan spanduk oleh para politisi dan para pejabat. Bagi saya ini bukan hanya nirmakna tetapi juga polusi pemandangan. Jelas ini sangat sangat mengganggu.


Umat Kristen tidak mengharapkan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru lewat baliho dan spanduk itu. Tapi selalu datang, terutama menjelang perhelatan politik. Kadang kami kenal orangnya sangat tidak suka dengan agama lain. Dan heran juga, kog bisa keluar dari alat ucapnya ucapan saleh religius padahal dia dikenal banyak oknum berperilaku setengah bajingan. Namun muncul balihonya dengan foto tangan dikatup dan di sampingnya pohon Natal berdiri meriah.

Natal bagi umat Kristen adalah kesempatan kembali melihat kehendak Allah dalam hidup seluruh umat manusia agar barang siapa menyambut kelahirannya (tentu mereka yang percaya) mengalami rasa damai selalu: berdamai dengan sesamanya dan dengan Allah.

Selamat menyambut Natal bagi segenap yang merindukan kedamaian dan kegembiraan, kecuali MUI.***

Disadur dari akun Facebook milik penulis

Komentar
Berita Terkini