JAKARTA(Pelita Batak): Masyarakat masih menunggu Pemerintah Pusat menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Melanchton Siregar, pendidik, pejuang, dan negarawan kelahiran Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Permohonan gelar Pahlawan Nasional tersebut disampaikan oleh berbagai unsur masyarakat pada tahun 2013.
Hal itu dikemukakan oleh Sekretaris Panitia Nasional Mengenang 100 Tahun Melanchton Siregar Pengusul Pahlawan Nasional Drs Ronald M. Sihombing kepada Pelita Batak di Jakarta, Sabtu, 27 Juli 2019.
Menurut Ronald, pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Melanchton ikut bergerilya di medan pertempuran dengan tetap mengabdi pada bidang pendidikan. Setelah menyelesaikan pendidikan pria kelahiran Pearung, Humbang Hasundutan, pada 7 Desember 1912, itu, memilih tugas pengabdian menjadi guru dan kemudian bergabung dengan para pejuang.
Pada usia sekitar delapan tahun, Melanchton masuk Gouvernement Hollandsch Inlandsch School (Gouw HIS - sederajat SD) di Balige dan kemudian, pada 1928 melanjutkan studi ke Christelijke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) (sederajat SMP) di Tarutung.
Dari MULO Tarutung, Melanchton meneruskan pendidikan ke Cristelijke Hollands Indische Kweekschool (Christelijke HIK) (sederajat SGA atau SPG), mula-mula di Probolinggo dan kemudian diselesaikan di Solo pada 1935. Semangat dan kehausannya akan pendidikan yang lebih tinggi tidak berhenti, karena itu dia langsung meneruskan pendidikan ke Gouvernement Hoofdacte Cursus (sederajat Sarjana Muda atau D III Pendidikan) di Bandung dan tamat pada 1938.
Melanchton mengawali karier sebagai pendidik di Joshua Institute di Medan selama beberapa bulan. Kemudian, menjadi guru di Christelijke HIS di Narumonda. Selanjutnya, dia meninggalkan Narumonda dan bersama sejumlah temannya tamatan HIK dan sekolah guru yang lain, mendirikan HIS HKBP Sidikalang.
Kemudian, Melanchton diangkat menjadi guru HIS pemerintah di Tebingtinggi dan di kota ini Melanchton bertemu dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai suku bangsa, yang mengajarkan untuk saling menghargai dan saling membantu. Pengalaman di Tebingtinggi menjadi latihan dan landasan bagi perjalanan karier selanjutnya.
Ditahan Kempetai
Ronald mengatakan, empat tahun Melanchton menjadi guru di Tebingtinggi dan sempat menjabat kepala sekolah. Ketika Jepang menduduki daerah ini pada 1943, Melanchton dipindahkan menjadi guru Tyu Gakko (sederajat SMP) di Medan. Tetapi, itu tidak lama, karena dia bersama teman karibnya, Achmad Delui Rangkuti, ditangkap Kempetai (Polisi Rahasia Jepang) serta dikurung dalam tahanan selama dua bulan dan sempat dijatuhi hukuman mati oleh Jepang, dengan tuduhan mata-mata. Tapi, kemudian dia dibebaskan dan menjadi guru di Tyu Gakko Pematang Siantar, tahun 1944.
Pada 1945, Melanchton diangkat menjadi Direktur Sekolah Teknik Menengah di Pematang Siantar.
Setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Melanchton bersama teman-temannya, Marnix Hutasoit, Philip Lumban Tobing, AMS Siahaan, dan lain-lain, mendirikan Sekolah Menengah Umum, Sekolah Pertanian, Sekolah Guru, Sekolah Ekonomi, dan Sekolah Teknik di Pematang Siantar. Para pelajar sekaligus sebagai tentara pelajar, sehingga sekolah-sekolah itu menjadi tempat pembinaan sumber daya manusia intelektual dan pejuang.
Beberapa jabatan dalam dunia pendidikan pernah dia pegang. Maka, dia pun dikenal luas sebagai pendidik. Dia mendirikan beberapa sekolah dengan maksud agar semua rakyat dapat menikmati pendidikan. Sekalipun sudah tidak menjadi guru, jiwa kependidikannya tetap membara dan mendorongnya tetap memperhatikan pendidikan.
Perkembangan selanjutnya, Melanchton beserta kawan-kawannya di Pematang Siantar, mendirikan Partai Politik Kaum Kristen (PPKI). Ketua pertama PPKI dipilih Dr. Jasmen Saragih kemudian digantikan oleh Melanchton. PPKI berubah nama menjadi Partai Kristen Indonesia (PARKI), dan selanjutnya dalam pertemuan bersama (kongres) di Solo disatukan dengan Partai Kristen Nasional yang ada di Jawa menjadi Partai Kristen Indonesia (Parkindo), pada 10 November 1945. Penyatuan PARKI ke Parkindo disahkan pada kongres di Parapat 10-20 April 1947.
Parkindo Sumatera Utara membentuk laskar pasukan bersenjata yang dikenal "Divisi Panah" dengan Melanchton sebagai Panglima. Markas Besar Divisi Panah berkedudukan di Pematang Siantar. Pasukan ini kemudian pindah markas ke Muara dengan jalur perjuangan antara lain Sipincur.
Beberapa posisi penting yang pernah dipegangnya, antara lain, anggota Dewan Pertahanan Sumatera, Gubernur Militer III, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Utara, dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI). Dengan berbagai posisi itu ditambah lagi dengan perkembangan keadaan dan suasana perjuangan, maka tidak mengherankan Melanchton sering terlibat dalam pasukan yang bergerak di lapangan dan sebagai penyedia logistik pasukan tempur. Ia memanggul senjata dan mengatur strategi agar masyarakat tidak kesulitan memperoleh bahan pokok, seperti beras. Untuk keperluan itu Melanchton menyusun mata rantai hubungan sampai jauh ke daerah musuh.
Bersama Bosar Sianipar, bergelar sandi Mundar Mandir, Melanchton yang mempunyai nama sandi Partahuluk Raso, bergerak sebagai Pejuang yang berasal dari rakyat. Maka, keduanya disebut Pemimpin Gerilya Rakyat. Keduanya menjadi orang-orang yang masuk daftar yang paling dicari oleh Belanda.
Selain itu, beberapa kali Melanchton mendampingi pimpinan tentara dalam perundingan dengan Belanda, khususnya mendampingi Kapten Bawady Simatupang, Komandan Militer di Humbang, pada waktu itu.
Negarawan
Melanchton Siregar pernah menjadi Anggota Badan Pekerja Dewan Kota Pematang Siantar (1946), Anggota DPR Sumatera Timur, anggota DPR Sumatera Utara, dan anggota KNIP. Pada 31 Januari 1950, Melanchton menjadi salah satu dari lima Anggota Badan untuk Menjalankan Hak dan Kewajiban Pemerintahan Provinsi Aceh, selama Dewan Pemerintahan Daerah Provinsi Aceh belum terbentuk.
Keanggotaan dalam perwakilan rakyat diperolehnya kembali melalui keberhasilan Parkindo Sumatera Utara memperoleh dukungan suara yang memberikan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta. Demikianlah kemudian Melanchton dilantik sebagai anggota DPR hasil Pemilihan Umum 1955, mewakili Parkindo Sumut.
Perubahan politik secara mendasar kembali terjadi setelah pemberontakan G30S/PKl. Pembersihan dan penataan kembali MPRS-Rl menetapkan pimpinan yang baru, diketuai Jenderal A.H. Nasution. Melanchton Siregar menjadi salah seorang Wakil Ketua MPRS-Rl mewakili Kristen/Katolik. Jabatan ini dipegangnya sampai anggota MPR-Rl hasil pemilihan umum yang pertama setelah Orde Baru dilantik tahun 1972.
Selama menjadi Wakil Ketua MPRS, Melanchton berhasil menyelesaikan berbagai masalah pelik dan peka yang menyangkut negara dan pemerintahan. Maka, Ketua MPRS AH Nasution menjulukinya trouble shooter. Baik di panggung nasional maupun internasional dia menunjukkan sosok negarawan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). la pernah bersuara lantang di pertemuan PBB mengenai NKRI dan Pancasila.
Tenaga, pikiran, dan pengabdian Melanchton untuk negara belum berakhir selepas dari MPRS.
Pemerintah kemudian mengangkatnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Pada saat berbakti di DPA, Melanchton wafat, setelah menderita gangguan jantung bertahun-tahun.
Melanchton tutup usia 24 Februari 1975 dan dimakamkan keesokan harinya dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Atas jasa dan karyanya, Melanchton menerima Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961) dan Bintang Mahaputra Adiprana II (1973). (rel)