Prof Dr Hotman M Siahaan:

HKBP Perlu Rumuskan Sikap Budaya Antisipasi Dinamika Masyarakat

Administrator Administrator
HKBP Perlu Rumuskan Sikap Budaya Antisipasi Dinamika Masyarakat
Dok
Prof Dr Hotman Siahaan

Medan (Pelita Batak):

HKBP sebagai “Gereja Rakyat”,sekaligus sebagai institusi kebudayaan selayaknya perlu merumuskan sikap budaya mengantisipasi dinamika masyarakat era milenial ini  demi meningkatkan pelayanannya yang memberdayakan masyarakat Batak yang menjadi warganya.  

Demikian disampaikan Prof Dr Hotman M Siahaan dalam Seminar Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan-Aceh, 21 Mei 2016 di Hotel Danau Toba, Medan. Menurutnya, HKBP sebagai “Gereja Rakyat” selayaknya tidak menjadi  pemelihara status quo hingga  memilih menjadi konservatif, namun  harus menjadi the idea of progress. Dalam posisinya sebagai institusi kebudayaan, gereja pada hakikatnya bukanlah kumpulan dogma-dogma yang abstrak, tapi sistematisasi sikap, dan peristiwa konkret, kontekstual.

"Karena itu teologipun seharusnya bukan kumpulan abstrak melainkan bagian dari proses-proses historis, dan oleh sebab itu dia harus selalu diuji dan ditinjau kembali di dalam dan oleh pengalaman serta penghayatan peristiwa-peristiwa dunia, bangsa maupun perorangan. Dengan kata lain  hakekat Gereja adalah identitas historisnya," ujarnya.

Menurutnya, pergolakan masyarakat  adalah  pergolakan Gereja, dan unsur keputusan tiap anggota HKBP, serta tindakannya dari waktu ke waktu bakal menentukan wujud kekristenan dalam sejarah. Gereja HKBP, dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada unsur ilahi --selalu merupakan Gereja dengan dan karena keputusan dan pilihan  jemaat yang menjadi anggotanya.

Persoalan yang muncul dalam pemikiran ini, bagaimana HKBP dapat menjadi historis dan konkret tanpa melepaskan hakiki yang harus disampaikannya.Atau pandangan yang melihat HKBP selalu merupakan hakikat yang historis, yang berjuang bersama perubahan dan kefanaan, dan bukanlah suatu hakikat metafisik, yang tertutup, selesai, tak mengandung gerak dalam dirinya, dan mantap dalam keabadian.

Dalam pandangan Guru Besar Unair ini, HKBP bukan sebagai sesuatu yang selesai dan sempurna, serta hanya perlu dipertahankan, tapi sebagai hasil perkembangan dari waktu ke waktu dalam proses mencari, menyaring, menyesuaikan dan menemukan dirinya. HKBP sebagai suatu struktur yang dibangun dalam suatu ruang tertentu (struktur dan lembaga sosial ataupun kebudayaan) dan HKBP sebagai exodus, "perjalanan terus menerus menuju masa depan sambil meninggalkan perkemahan sebab disini kita tidak mempunyai tempat tinggal tetap, kita mencari kota yang akan datang”.

"Manapun pandangan yang dominan mengenai HKBP dewasa ini dia harus kembali melihat dirinya sebagai jemaat yang harus keluar dari struktur sosial yang tampaknya tidak lagi sesuai dengan masyarakat sebagaimana dikehendaki," jelasnya.

Era milenial  dan era globalisasi ini harus membawa HKBP kembali kepada exodus, dan melihat umat yang “pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya, karena disini tak ada tempat tinggal yang tetap”. Masalahnya, bagaimana menghubungkan antara exodus itu dengan the idea of progress HKBP dalam era milenial  ini?Untuk itu, HKBP selayaknya merumuskan suatu gerakan kebudayaan.(**)

Komentar
Berita Terkini